Konferensi pers RS JIH Solo yang menjadi rumah sakit swasta pertama di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan layanan implan koklea untuk pasien anak.

SOLO, solotrust.com - RS JIH Solo menjadi rumah sakit swasta pertama di Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang menghadirkan layanan implan koklea untuk pasien anak. Layanan ini menjadi langkah baru dalam penanganan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat di wilayah Jawa Tengah. 
 
Implan koklea merupakan perangkat elektronik, bekerja dengan memberikan stimulasi listrik pada saraf pendengaran. Teknologi ini diperuntukkan bagi pasien dengan gangguan pendengaran sensorineural berat hingga sangat berat yang tidak mendapatkan manfaat optimal dari alat bantu dengar.
 
Direktur Medik dan Keperawatan RS JIH Solo, Wisnu Prima Putra, mengatakan hadirnya layanan ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam mengembangkan layanan kesehatan dan memperluas akses masyarakat terhadap teknologi medis.
 
“Hadirnya layanan implan koklea di RS JIH Solo merupakan bentuk komitmen kami untuk terus mengembangkan layanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kami berharap layanan ini dapat memberikan pilihan penanganan lebih dekat dan komprehensif bagi pasien dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat di Jawa Tengah, " ungkapnya. 
 
Pasien pertama menjalani tindakan implan koklea di RS JIH Solo merupakan anak berusia 12 tahun. Tindakan operasi bukan menjadi tahap akhir. Pasien masih harus menjalani aktivasi perangkat, mapping, rehabilitasi pendengaran, hingga terapi wicara secara bertahap. 
 
Dokter spesialis THT-KL RS JIH Solo, Dimas, menjelaskan pasien harus menjalani pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh sebelum dinyatakan memenuhi indikasi medis untuk menjalani implan koklea.
 
“Implan koklea bukan sekadar alat bantu dengar. Perangkat ini memberikan stimulasi listrik pada saraf pendengaran. Pada anak, deteksi dan intervensi sedini mungkin menjadi sangat penting karena berkaitan dengan perkembangan kemampuan mendengar, bahasa, dan komunikasi," bilangnya. 
 
Menurut Dimas, keputusan melakukan implan tetap harus mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien melalui evaluasi dan indikasi medis.
 
Pelaksanaan layanan ini turut mendapat dukungan PT Nobel dalam aspek teknologi dan kolaborasi layanan. Perwakilan PT Nobel, Loewis, menekankan teknologi hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan proses penanganan pasien.
 
“Teknologi merupakan salah satu bagian dari perjalanan pasien. Hal yang tidak kalah penting adalah kolaborasi antara tim medis, proses rehabilitasi, dan dukungan keluarga," ujarnya. 
 
Sementara itu, Public Relations RS JIH Solo, Adil Erdita Ayu Marta, mengatakan keluarga juga memiliki peran penting dalam perjalanan pengobatan pasien, termasuk memahami proses yang dijalani setelah operasi.
 
“Kami ingin keluarga memahami proses yang dijalani pasien dengan mendapatkan informasi jelas dan pengalaman pelayanan transparan. Bagi kami, keluarga merupakan bagian penting dalam perjalanan pengobatan pasien, termasuk dalam proses setelah operasi," terangnya. 
 
RS JIH Solo berharap kehadiran layanan implan koklea dapat meningkatkan perhatian masyarakat terhadap deteksi dini gangguan pendengaran pada anak, sehingga intervensi dapat dilakukan lebih cepat sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. (add)