Acara peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sukowati mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia. Dalam resepsi puncak acara, seribu tumpeng turut menghiasi Gedung Olah Raga (GOR) Sragen, Sabtu (31/01/2026)

SRAGEN, solotrust.com - Peringatan satu abad Nahdlatul Ulama (NU) di Bumi Sukowati mengusung tema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia. Dalam resepsi puncak acara, seribu tumpeng turut menghiasi Gedung Olah Raga (GOR) Sragen, Sabtu (31/01/2026) siang.

Tak sekadar seremoni, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen tancap gas memperkuat fondasi organisasi melalui jalur ideologisasi kader dan kemandirian ekonomi. Ketua Tanfidziyah PCNU Sragen, Sriyanto, menegaskan momentum seratus tahun ini adalah pembuktian soliditas organisasi.

Hal itu tampak dari ‘lautan’ atribut menghiasi pelosok kabupaten. Ribuan bendera NU berkibar hingga ke tingkat ranting, disusul kehadiran ribuan warga pada puncak resepsi di GOR Diponegoro Sragen.

"Ini adalah momentum kebangkitan. Kami membuktikan bahwa konsolidasi organisasi berjalan melalui berbagai rangkaian acara melibatkan seluruh elemen," kata Sriyanto dengan nada optimistis.

PCNU Sragen kini juga fokus ke masa depan. Dua tantangan besar telah dipetakan, yakni internal dan eksternal. Secara internal, penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang, mulai dari tingkat cabang (PCNU), kecamatan (MWCNU), hingga desa (ranting) menjadi harga mati sesuai amanah PBNU.

Di sektor eksternal, gebrakan paling konkret adalah peluncuran Sragen Mart. Sebuah proyek minimarket yang menjadi embrio kemandirian ekonomi warga nahdliyin.

"Sragen Mart adalah wujud kemandirian kita. Kalkulasi kebutuhannya mencapai Rp3 miliar dan saat ini sudah terkumpul Rp2,83 miliar," ungkap Sriyanto.

Menariknya, modal Sragen Mart bukan berasal dari pemodal besar, melainkan hasil kolektif warga melalui sistem saham. Satu lembar saham dihargai Rp250 ribu yang diserap warga NU dari tingkat desa hingga kabupaten. Strategi ini memastikan setiap warga memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap unit usaha tersebut.

Berlokasi di kawasan Atrium dengan status sewa, Sragen Mart tak hanya menjual produk pabrikan. PCNU melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) telah mematok kuota 30 persen rak untuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik warga lokal.

"Kami sudah mendata produk UMKM warga. Jadi, Sragen Mart akan menjadi etalase, sekaligus akses pasar bagi potensi ekonomi di tingkat bawah," tambah Sriyanto.

Sementara tradisi tumpengan di acara harlah mencerminkan kolektivitas warga. Adapun dari target seribu tumpeng, panitia justru kebanjiran kiriman hingga 1.134 tumpeng dari pengurus ranting. Setiap desa menyumbang tiga tumpeng sebagai simbol gotong royong. PCNU Sragen juga berharap pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap agenda kemandirian ini.

"Kami sangat berharap dukungan pemerintah, terutama untuk program-program pemberdayaan masyarakat yang tengah kami laksanakan," tutupnya. (wah)