Pembukaan Emparty Fest di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT).

SOLO, solotrust.com- Emparty Fest resmi dibuka di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Selasa (04/08/26). Festival ini berlangsung selama 8 hari, mulai 3 Agustus hingga 10 Agustus 2026. Mengusung tema Art For Humanity, Emparty tidak hanya dirasakan tetapi juga dirayakan melalui karya, kolaborasi, dan kebersamaan sebagai bentuk ajakan untuk merayakan kepedulian melalui berbagai seni dan aksi sosial.

Emparty Fest hadir sebagai respon terhadap tantangan berkesenian saat ini, dimana masih banyak seniman menghadapi keterbatasan ruang berekspresi, kesempatan berkolaborasi, serta tantangan mempertahankan nilai di tengah perkembangan industri kreatif. Festival ini menjadi ruang terbuka yang mempertemukan seni dengan isu kemanusiaan secara lebih inklusif, dekat dan bermakna. Emparty berangkat dari keyakinan bahwa seni merupakan bahasa universal yang mampu menyampaikan pesan, membangun refleksi, membuka ruang dialog, serta menghubungkan manusia melalui rasa dan pengalaman bersama.

Festival kesenian ini melibatkan 377 seniman dari berbagai daerah yang terdiri dari 50 seniman lukis, 10 Seniman instalasi, 50 seniman teater termasuk 17 pelajar SMA/SMK, 70 seniman fotografi, 5 seniman mural, 2 seniman keramik, 180 seniman pertunjukan serta 10 seniman keris yang menghadirkan kekayaan warisan budaya Indonesia. Seluruh karya yang ditampilkan adalah kolaborasi untuk menyampaikan pesan kemanusiaan melalui bahasa seni yang universal.

Rangkaian pembukaan diawali dengan penampilan tari Karang Tumandang dari Komunitas Seniman Karanganyar (Sekar). Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan  disusul Doa Tolak Bala Pangkur Gedhong Kuning yang dibawakan oleh Nur Suara Sindhen (Nur Handayani).

Barata Sena, ketua dari organisasi Seniman Merdeka Indonesia mengatakan, Emparty Fest lahir dari keprihatinannya terhadap berbagai persoalan sosial yang terus terjadi, mulai dari kekerasan terhadap perempuan hingga banyaknya masyarakat yang hidup dalam kesulitan.

“Tuhan menuntun saya untuk mendengar, menyaksikan, dan melihat bagaimana penderitaan orang lain secara terus menerus melalui radio, televisi, dan internet. Seorang perempuan yang diperkosa dan dimutilasi, bencana, kecelakaan. Maka dari itu saya ingin mengajak bersama-sama  merayakan kepedulian agar lebih ringan,” ujarnya.

Ia menjelaskan festival tersebut tidak hanya menghadirkan pameran seni, tetapi juga berbagai workshop seperti keris, batik, dan keramik. Selain itu, penyelenggara juga menyediakan kotak apresiasi yang berisi donasi yang nantinya  akan disalurkan kepada rumah singgah anak-anak penyintas HIV/AIDS, penyandang disabilitas, dan panti jompo.

Sementara itu, Wali Kota Surakarta Respati Ardi menilai Emparty Fest merupakan kegiatan seni yang memiliki makna sosial kuat. Menurutnya, tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini membutuhkan ruang untuk membangun rasa kepedulian dan solidaritas. Ia mengapresiasi penyelenggaraan festival tersebut dan berharap kegiatan serupa terus berkembang sehingga mampu melahirkan lebih banyak talenta seni Indonesia.

Dalam sambutanya Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia, Giring Ganesha memaparkan bahwa seni memiliki peran penting dalam membangun karakter bangsa. Menurutnya kebudayaan bukan hanya kebijakan administratif, melainkan identitas bangsa yang harus dijaga.

“Disinilah seni hadir. Seni mengajak kita berhenti sejenak, dan melihat sesama sebagai keluarga besar umat manusia,” ucap Giring.

Selanjutnya adalah pemukulan gong sebagai tanda dibukanya acara festival Emparty Fest oleh Giring Ganesha (Wakil Menteri Kebudayaan Indonesia) Barata Sena (ketua Komunitas Seniman Merdeka Indonesia), Respati Ardi (Wali Kota Surakarta), dan Sarido (Plt. Kepala Taman Budaya Jawa Tengah). Acara ini ditutup dengan berbagai pertunjukan tradisional, salah satunya yakni dari komunitas Seblaka Sasutane dengan judul Lengger Barangan karya Otniel Tasman.

Melalui Emparty Fest, masyarakat diajak tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berpartisipasi dalam gerakan kepedulian melalui seni. Festival ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan kreativitas, solidaritas, dan aksi kemanusiaan dalam satu perayaan bersama.

 

Penulis: Diani, Intan, Rieke