Banaran Singing Competition 2026 berlangsung pada 3-4 Juli 2026.

KARANGANYAR, solotrust.com – Di tengah menjamurnya coffee shop, Bhara Coffee 91 Banaran memilih menghadirkan konsep berbeda dengan menjadikan budaya lokal sebagai identitas utama. Tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, Bhara Coffee 91 Banaran juga aktif menyediakan ruang bagi komunitas, seniman, dan masyarakat untuk berkarya sekaligus melestarikan budaya Jawa.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Bhara Coffee 91 “Banaran Singing Competition 2026” berlangsung pada 3-4 Juli 2026 , kompetisi menyanyi yang mengangkat lagu-lagu karya maestro campursari, almarhum Didi Kempot. Kegiatan ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Bhayangkara ke-80.

Ajang tersebut merupakan hasil kolaborasi antara putra mendiang Didi Kempot, Staso Prasetyo, Bhara Coffee 91 Banaran, L Bhara Air Demineral, Teh Sepeda Balap, dan HTN Production. Selain menjadi kompetisi, kegiatan ini juga menjadi sarana menghidupkan kembali karya-karya Didi Kempot sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap bahasa, musik, dan budaya daerah.

Peserta dari berbagai daerah tampil membawakan sejumlah lagu populer Didi Kempot, mulai dari Stasiun Balapan, Banyu Langit, hingga Sewu Kutho. Penampilan mereka mendapat sambutan hangat dari ratusan penonton yang memadati area Bhara Coffee 91 Banaran.

Owner Representatif Bhara Coffee 91 Banaran, Herykun, mengatakan pihaknya ingin menjadikan Bhara Coffee sebagai ruang berkarya dan berkolaborasi bagi masyarakat.

“Bhara Coffee tidak hanya menjadi tempat menikmati kopi, tetapi juga ruang bagi komunitas dan pelaku seni untuk berekspresi. Kami ingin ikut menjaga dan menghidupkan budaya lokal melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Herykun, suasana yang nyaman, area terbuka yang asri, serta hiburan musik yang rutin digelar menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung sekaligus sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.

Sementara itu, saat dewan juri melakukan penilaian, suasana panggung semakin semarak dengan penampilan spesial penyanyi campursari asal Gunungkidul, Dimas Tedjo. Melalui sejumlah lagu karya Didi Kempot, Dimas berhasil menghibur penonton sekaligus memberikan motivasi kepada peserta agar terus berkarya dan melestarikan musik campursari.

“Musik campursari adalah warisan budaya yang harus terus dijaga. Saya berharap generasi muda tidak ragu untuk mencintai dan membawakan lagu-lagu daerah karena di dalamnya terdapat identitas budaya bangsa,” kata Dimas Tedjo yang juga merupakan Brand Ambassador Teh Sepeda Balap.

Puncak acara terjadi saat Staso Prasetyo naik ke atas panggung membawakan lagu legendaris Stasiun Balapan. Penampilannya mengundang nostalgia dan mendapat sambutan meriah dari penonton.

Staso menilai karya-karya Didi Kempot tetap dicintai masyarakat karena memiliki lirik yang sederhana namun dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Lagu-lagu karya Bapak tetap hidup karena bercerita tentang kehidupan yang dekat dengan masyarakat. Itulah yang membuat karya beliau masih relevan dan dicintai lintas generasi hingga sekarang,” ungkap Staso.

Setelah seluruh peserta tampil, dewan juri yang terdiri dari Jaya Meida, Om Theo, dan Mbah Eko Gudel mengumumkan para pemenang. Hanis berhasil meraih Juara I, disusul Cinta Tasya sebagai Juara II, dan Zae Jamina sebagai Juara III.

Pemenang Juara II, Cinta Tasya, mengaku bangga dapat menjadi bagian dari kompetisi yang tidak hanya menguji kemampuan bernyanyi, tetapi juga menjadi upaya melestarikan karya-karya Didi Kempot.

“Saya sangat senang bisa mengikuti kompetisi ini. Selain menambah pengalaman, kegiatan ini juga menjadi cara untuk ikut menjaga dan mengenalkan lagu-lagu Didi Kempot kepada generasi muda,” ujarnya.

Dukungan terhadap pelestarian musik campursari juga datang dari Teh Sepeda Balap. Pimpinan Teh Sepeda Balap, Hartono, menilai almarhum Didi Kempot sebagai sosok seniman yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

“Beliau selalu tampil total dan dekat dengan penggemarnya. Nilai-nilai itulah yang membuat karya-karyanya terus dikenang dan dicintai masyarakat,” kata Hartono.

Melalui kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas, seniman, dan masyarakat, Bhara Coffee 91 Banaran Singing Competition 2026 menjadi bukti bahwa musik campursari masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. Kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan talenta-talenta baru sekaligus menjaga eksistensi musik tradisional agar terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (yda)