Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyanto (kanan) menjelaskan kebijakan Jam Wajib Belajar dalam talkshow OBSERVASI, dipandu host Henry Santoso, Kamis (15/01/2026). (Dok. YouTube)

SOLO, solotrust.com - Pemerintah Kota Solo melalui Dinas Pendidikan resmi menginisiasi kembali gerakan Jam Wajib Belajar guna menciptakan ekosistem pendidikan kondusif di luar jam sekolah, menekankan pada aktivasi kembali budaya belajar di rumah yang mulai tergerus distraksi digital. Kebijakan ini disampaikan dalam talkshow ‘OBSERVASI’ bersama narasumber Dwi Ariyanto, S.STP, M.A.P. dipandu Host Henry Santoso, Kamis (15/01/2026).
 
Selaku Kepala Dinas Pendidikan Kota Solo, Dwi Ariyanto, mengungkapkan keberhasilan pendidikan anak tak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Mengingat durasi siswa di sekolah hanya berkisar lima hingga tujuh jam, peran keluarga dan lingkungan menjadi sangat penting dalam membentuk karakter dan pemahaman akademik anak.
 
"Kami ingin mengaktifkan kembali aktivitas positif belajar anak. Jika dulu tantangannya hanya mematikan televisi, sekarang tantangannya adalah gadget. Melalui kebijakan ini, kami mendorong adanya kontrol orang tua dan dukungan lingkungan pada jam-jam produktif belajar," ujar Dwi Ariyanto. 
 
Rencananya program Jam Wajib Belajar akan menyasar waktu antara pukul 19.00 hingga 21.00 WIB. Dalam durasi dua jam, anak-anak diharapkan fokus pada proses pembelajaran, baik itu mengulang pelajaran, mengerjakan tugas, maupun mempersiapkan materi untuk hari berikutnya.
 
Dwi Ariyanto menegaskan, surat edaran ini tak hanya ditujukan bagi orang tua, namun juga perangkat kewilayahan, mulai dari RT, RW, hingga kelurahan. Lingkungan diminta menjaga ketenangan dan menghindari penyelenggaraan hiburan yang dapat memecah konsentrasi anak pada jam belajar tersebut.
 
"Satpol PP (Satuan Polisi Pamong Praja) juga akan dilibatkan untuk melakukan pengawasan di area publik. Jika ditemukan anak-anak usia sekolah keliling tanpa tujuan jelas pada jam belajar akan dilakukan tindakan preventif dan edukatif," tambahnya.
 
Dukungan orang tua menjadi dasar kebijakan yang rencananya mulai diperkuat pada Februari mendatang. Program Jam Wajib Belajar menuntut kemauan orang tua untuk mendampingi dan mengawasi. Meski menyadari adanya kesibukan pekerjaan, Dinas Pendidikan berharap setidaknya ada komunikasi antara orang tua dan anak mengenai progres belajar lanjutan di sekolah.
 
"Bentuk perhatian ini adalah dukungan utama sebagai moral bagi anak. Harapannya, anak-anak Solo tidak hanya unggul di sekolah, tapi juga memiliki kedisiplinan dan kebiasaan hebat di rumah," ujar Dwi Ariyanto. (Arien Gita/Mutiara Agustina)