Keramaian warga saat menikmati 7.000 Ketupat.
​SUKOHARJO, solotrust.com– Aroma gurih opor ayam menyeruak di udara malam Taman Ratu Maulidya, Desa Purbayan, Senin (13/4/2026). Di bawah pendar lampu panggung, ribuan pasang mata menatap penuh antusias. Malam itu bukan sekadar perayaan Syawalan biasa; itu adalah potret kerukunan yang dibalut dalam pesta rakyat bertajuk Puncak Purbayan Syawalan.
​Sejak sore hari, suasana desa di Kecamatan Baki ini sudah tumpah ruah. Panitia telah menyiapkan "amunisi" silaturahmi yang tak main-main, 7.000 porsi ketupat lengkap dengan opor ayam dan kudapan khas Lebaran. Tak butuh waktu lama, ribuan paket makanan itu ludes diserbu warga yang datang dari berbagai penjuru.
​Menariknya, magnet acara ini tak hanya menarik warga lokal Sukoharjo. Di antara kerumunan, tampak wajah-wajah yang menempuh perjalanan jauh dari Pacitan, Yogyakarta, bahkan hingga Jakarta, demi merasakan kehangatan tradisi di desa ini.
​"Alhamdulillah, malam ini adalah puncaknya. Kami ingin menciptakan kegiatan positif sekaligus mempererat kerukunan antarwarga," ujar Tuntas Subagyo, tokoh masyarakat sekaligus penyelenggara acara tersebut.
​Antara Selawat dan Melodi Modern
​Panggung Purbayan Syawalan menyuguhkan harmoni yang unik. Di satu sisi, suasana religius terasa kental saat Majelis Azzahir melantunkan selawat, dipandu oleh tokoh-tokoh besar seperti K.H. Anwar Zahid, Habib Bidin, dan Ustadz Kelik GP. Ribuan jamaah tampak larut dalam kekhusyukan, berselawat di bawah langit malam.
​Di sisi lain, energi kemudaan meledak saat grup musik Aftershine asal Yogyakarta dan Tuntastic Band naik ke atas pentas. Perpaduan antara tradisi religi dan hiburan modern ini menjadi muara dari rangkaian panjang Safari Ramadan yang sebelumnya telah diisi dengan wayang kulit hingga festival takbir.
​Namun, ada yang berbeda di tengah keriuhan pembagian 212 doorprize—mulai dari motor listrik hingga kulkas. Tuntas Subagyo mengambil momen tersebut untuk menyuarakan keresahan global. Lewat lagu berjudul 'Stop War', ia menyelipkan pesan moral yang mendalam.
​"Dunia sedang tidak baik-baik saja. Melalui lagu ini, kami ingin menyuarakan pesan damai agar peperangan segera berhenti," tegas pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) tersebut.
​Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik tawa warga yang menikmati ketupat gratis, ada harapan besar untuk kedamaian yang lebih luas.
​Panitia tampak sangat memuliakan tamu yang hadir. Penggunaan giant screen di berbagai titik memastikan mereka yang berada di barisan belakang tetap bisa menikmati acara dengan nyaman di atas kursi yang telah disediakan, lengkap dengan camilan dan minuman.
​Menutup malam yang meriah tersebut, Tuntas Subagyo sudah memasang target baru untuk tahun depan. Melihat antusiasme yang terus membeludak, ia berjanji akan menghadirkan perayaan yang lebih megah.
​"Insyaallah tahun depan target kita sediakan 10.000 ketupat untuk halalbihalal," pungkasnya dengan nada optimis. (nas)
