Pertunjukan The Kitchen Under Skin oleh Kenta Masukawa di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Sabtu (10/01/2026). (Foto: Dok. solotrust.com/Arien Gita)

SOLO, solotrust.com - Studio Plesungan kembali menghadirkan program rutin dua bulanan sekali di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Sabtu (10/01/2026). On Stage diadakan untuk meningkatkan apresiasi publik terhadap karya kontemporer melalui penyajian karya seniman terpilih dan bincang publik.

Kali ini, panggung seni pertunjukan kontemporer tersebut menampilkan karya bertajuk ‘The Kitchen Under Skin’ oleh seniman asal Jepang, Kenta Masukawa. Pertunjukan ini berhasil menyihir penonton dengan mengubah aktivitas domestik memasak menjadi sebuah narasi gerak yang meditative, sekaligus teatrikal.

Menurut Kenta Masukawa, koreografi disusun melalui kata-kata memiliki kemampuan untuk merangsang indra dan menghadirkan pengalamannya yang tidak hadir secara fisik. Bahasa menggerakkan tubuh dari dalam, membalik hierarki yang lazim antara permukaan dan interior. Dengan cara ini, memasak dan koreografi berbasis mata saling mencerminkan, keduanya menggoyangkan batasan antara kulit dan organ dalam.  

Staf Studio Plesungan, Razan, menjelaskan On Stage dirancang sebagai ruang bagi seniman, baik lokal maupun internasional untuk mempresentasikan praktik artistik mereka. Fokus utamanya bukan pada skala produksi besar, melainkan pada kekayaan wacana.

“Kami ingin melihat seni pertunjukan tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai produksi pengetahuan dan ruang pertemuan diskusi,” kata Razan.

Ia menambahkan, karya Kenta Masukawa merupakan hasil residensi selama satu bulan di Studio Plesungan yang merupakan pengembangan dari riset koreografi berbasis resep masakan telah ditekuninya selama dua tahun.

Pertunjukan ini mendapatkan apresiasi tinggi dari publik yang hadir. Kris, salah satu penonton, mengaku terkesan dengan bagaimana Kenta Masukawa membawa penonton masuk ke dalam suasana meditatif dari gerakan sehari-hari.

“Awalnya sangat tenang dan meditatif lalu suasana dibangun perlahan hingga mencapai puncaknya saat masakan jadi, diiringi musik yang playful. Benar-benar menyenangkan dan menakjubkan,” ungkap Kris.

Sependapat dengan Kris, penonton lainnya, Galuh, menyoroti kemurnian ekspresi ditampilkan Kenta Masukawa. Menurutnya, kesederhanaan menjadi kekuatan utama dalam karya ini.

“Penyajiannya beda dari teater lain. Sangat memuaskan secara visual dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana budaya Jepang berinteraksi dengan konteks lokal Indonesia selama masa residensinya,” tutur dia.

Melalui diskusi publik yang digelar usai pementasan, Studio Plesungan berupaya menjembatani pemahaman antara seniman dan masyarakat awam. Program ini membuktikan seni kontemporer yang sering dianggap ‘berat’ dapat dinikmati dan menjadi pemantik edukasi jika dihadirkan dengan jujur. The Kitchen Under Skin tak hanya meninggalkan kesan visual indah, namun juga sebuah pertanyaan bermakna yang dibawa pulang oleh setiap penontonnya.

*) Reporter: Arien Gita/Mutiara Agustina