Puskesmas Sukoharjo gencar melakukan pantauan ke rumah warga dalam rangka menekan kasus demam berdarah (DB). Tak hanya melibatkan personel setempat, namun juga melibatkan pihak lain, di antaranya dokter muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)

SUKOHARJO, solotrust.com - Puskesmas Sukoharjo gencar melakukan pantauan ke rumah warga dalam rangka menekan kasus demam berdarah (DB). Tak hanya melibatkan personel setempat, namun juga melibatkan pihak lain, di antaranya dokter muda dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). 
 
Menurut Kepala Puskesmas Sukoharjo, Kunari Mahanani, hasil pantauan di lapangan, sejauh ini masih ditemukan tempat-tempat penampungan air berpotensi menjadi sumber sarang nyamuk, seperti bak mandi, ember, vas bunga, hingga barang bekas menampung air hujan. Karena itu, pihak puskesmas terus mendorong masyarakat untuk disiplin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
 
“Hasil pantauan yang kami lakukan masih banyak ditemukan tempat berpotensi berkembangnya nyamuk. Pantauan ini tidak hanya untuk melihat keberadaan jentik, tetapi juga sebagai sarana edukasi kepada masyarakat. Kami menggandeng dokter muda UMS agar ada sinergi antara layanan kesehatan dan dunia pendidikan, sekaligus menambah tenaga dalam kegiatan survei lapangan,” ungkapnya, Kamis (12/02/2026).
 
Lebih lanjut dikatakan, kasus demam berdarah di Kecamatan Sukoharjo relatif masih tinggi. Berdasarkan data, pada 2025 terdapat demam dengue (DD) sebanyak 546 kasus, demam berdarah dengue (DBD) tercatat 122 kasus, dan dengue shock syndrome (DSS) ada dua kasus.
 
Sementara pada 2026, data terakhir menyebut terdapat demam dengue (DD) sebanyak 15 kasus, sedangkan demam berdarah dengue (DBD) tercatat dua kasus. Melihat data yang ada, Kunari Mahanani bilang, kasusnya masih tinggi sehingga upaya edukasi dan sosialisasi perlu lebih gencar dilakukan. 
 
"Adapun yang terlibat tidak hanya personel puskesmas, tapi juga dibantu pihak lain, di antaranya mahasiswa kedokteran UMS,” kata dia.
 
Selain melakukan sosialisasi dan edukasi kepada warga, pihak puskesmas juga memberikan spray ramuan herbal antinyamuk. Spray ini merupakan hasil produksi mahasiswa kedokteran UMS untuk dibagikan gratis kepada warga. 
 
“Kami turun ke rumah warga langsung, terutama di wilayah dengan kasus DB tinggi. Angka Bebas Jentik (ABJ) kita saat ini masih 85 persen, artinya masih ada rumah atau tempat umum ditemukan jentik nyamuk saat pemeriksaan. Idealnya, ABJ harus di atas 95 persen agar risiko penularan DBD bisa ditekan,” jelas Kunari Mahanani.
 
Salah satu mahasiswi UMS, Salwa Ghasani, mengatakan spray antinyamuk yang diberikan kepada warga dibuat dengan bahan alami, di antaranya dari serai dan alkohol. 
 
“Selain memberikan edukasi dan sosialisasi, kami juga memberikan spray alami antinyamuk. Kami berikan ini gratis ke warga. Kami juga memberikan pelatihan pembuatan spray antinyamuk,” bilangnya. (nas)