Instalasi Seni Surakusuma yang diselenggarakan di Bale Sisworini, Pracima Tuin, Pura Mangkunegaran sebagai peringatan Bulan Sura.

SOLO, solotrust.com- Pura Mangkunegaran menghadirkan pameran instalasi seni Surakusuma sebagai bagian dari peringatan bulan Sura. Pameran yang berlangsung di Bale Sisworini, Pracima Tuin, ini dibuka untuk umum mulai 16 Juni hingga 21 Juli 2026. Pameran ini diinisiasi oleh KGPAA Mangkunegara X bersama Abdi Muda Mangkunegaran dan tim Sanasuka.

Surakusuma berangkat dari ajakan untuk mulih (pulang) dan menghadirkan kesadaran , ruang batin, dan hubungan yang utuh dengan diri. Pameran ini mengusung tema perjalanan waktu yang terbagi ke dalam tiga konsep, yaitu Atita (masa lalu), Atiki (masa kini), dan Anagata (masa depan). Ketiga ruang tersebut dirancang untuk mengajak pengunjung merefleksikan perjalanan hidup sekaligus memaknai Bulan Sura sebagai momentum introspeksi dan pembaruan diri.

Ruang Atita mengajak pengunjung menengok kembali perjalanan yang telah dilalui dimana tempat untuk mengenang dan belajar dari pengalaman. Dalam prosesnya, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki, serta membawa lampu minyak dan garam. Kegiatan ini merupakan Laku Pradaksina dan Bucalan dimana representasi dari tapak bisu yang digunakan ritual di bulan Sura.

Dikutip dari Instagram @info.mn, Pradaksina merupakan kebudayaan Jawa yang berupa laku berjalan mengelilingi suatu objek yang berada di sisi kanan, atau searah jarum jam. Laku pradaksina hadir sebagai bagian dari perjalanan memaknai  filosofi Atita, yaitu melepas keterikatan pada masa lalu. Sejalan dengan makna tersebut, Laku Pradaksina dilakukan bersama dengan tradisi Bucalan. Dalam tradisi Jawa, Bucalan dimaknai sebagai laku simbolis tolak bala. Dalam instalasi seni Surakusuma, tradisi bucalan diwujudkan melalui media tabur garam.

Ruang selanjutnya adalah Atiki, yang merepresentasikan masa kini. Pada ruang ini, pengunjung diajak mengikuti sesi meditasi dan memperoleh selembar kertas aura sebagai bagian dari pengalaman instalasi. Meditasi diawali dengan bunyi lonceng sebanyak satu kali sebagai penanda dimulainya sesi, kemudian lonceng dibunyikan kembali sebagai tanda berakhirnya meditasi. Melalui ruang Atiki, pengunjung diajak untuk memaknai kehidupan pada saat ini secara utuh, menumbuhkan kesadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar, serta menata pikiran dan perasaan agar kembali mencapai keseimbangan.

Terakhir, ruang Anagata yang mencerminkan keesokan hari setelah tahun baru. Dalam ruangan ini pengunjung diperbolehkan untuk mengambil gambar. Ruangan ini mempresentasikan sebuah rumput yang sedang tumbuh, serta tetesan air, yang menggambarkan bahwa kita memiliki sebuah harapan untuk melangkah menuju masa depan.

Selanjutnya pengunjung akan diarahkan untuk menulis sebuah harapan dan penyesalan dalam sebuah kertas. Kertas berisi penyesalan akan dilipat dan ditinggal dalam sebuah wadah, sedangkan untuk kertas yang berisi harapan bisa disimpan dan dibawa pulang.

Melalui pameran instalasi Surakusuma, Pura Mangkunegaran tidak hanya menghadirkan karya seni yang dapat dinikmati secara visual, tetapi juga mengajak pengunjung menjalani pengalaman reflektif yang selaras dengan makna Bulan Sura tradisi Jawa. Rangkaian ruang Atita, Atiki, dan Anagata mengarahkan pengunjung untuk belajar dari masa lalu, masa kini, dan masa depan.

 

(Penulis: Dian, Intan, Rieke)