Pagelaran Wayang Kulit Jawa Tengah menampilkan dalang kondang Ki Medhot Sudarsono di Pendopo Ageng Gendhon Humardani, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis (13/11/2025) malam. (Foto: Dok. solotrust.com/Annisa Luthfi Afifah)

SOLO, solotrust.com - Suara merdu alunan gamelan dan celotehan sang dalang kembali menghidupkan suasana di Pendopo Ageng Gendhon Humardani, Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kamis (13/11/2025) malam. Pagelaran Wayang Kulit Jawa Tengah menampilkan dalang kondang Ki Medhot Sudarsono sukses memukau ribuan penonton, baik yang hadir langsung maupun mengikuti via live streaming disiarkan langsung dari TBJT tepat pukul 20.00 WIB. Acara ini merupakan salah satu agenda penting TBJT dalam menjaga eksistensi seni pedalangan.
 
Dalam pagelaran istimewa tersebut, Ki Medhot Sudarsono membawakan lakon epik 'Bedah Dwarawati'. Lakon ini mengisahkan perjuangan heroik Raden Narayana yang kelak menjadi Sri Bathara Kresna dalam merebut dan membersihkan Kerajaan Dwarawati dari pemimpin zalim. 
 
Cerita ini kaya pesan moral mendalam tentang kepemimpinan ideal, kesaktian, dan perjuangan menuju tegaknya kebenaran, menjadikannya tontonan sangat relevan dan edukatif bagi segala usia.
 
Ki Medhot Sudarsono dikenal dengan gaya pewayangan humoris, namun tetap berbobot dan sarat akan sabetan memukau, berhasil menyajikan setiap adegan dengan dinamis dan penuh energi. 
 
Keahliannya dalam memainkan wayang, mengolah suara, dan berinteraksi dengan penonton menjadikan malam itu terasa hidup dan penuh makna, menegaskan perannya sebagai pewaris tradisi pewayangan Jawa Tengah yang produktif dan inovatif. Antusiasme penonton, baik fisik maupun online, menjadi bukti kuat apresiasi budaya.
 
Ki Medhot Sudarsono menyampaikan pandangannya mengenai esensi lakon yang dibawakannya.
 
“Lakon 'Bedah Dwarawati' adalah cerminan bagaimana seorang pemimpin harus berjuang dan membuktikan kelayakannya. Pesan moralnya jelas, kekuasaan sejati didapatkan melalui pengorbanan, penegakan keadilan, dan kesiapan untuk berkorban demi rakyat,” ujar Ki Medhot Sudarsono. 
 
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi live streaming adalah kunci untuk menjembatani dan mengenalkan warisan seni ini kepada generasi muda agar proses regenerasi terus berjalan.
 
Respons positif juga datang dari masyarakat. Hadi Prasetyo, salah seorang pengunjung asal Klaten yang sengaja datang jauh-jauh, mengungkapkan kekagumannya. 
 
“Saya selalu terkesan dengan kreativitas Ki Medhot yang penuh kelucuan, tapi tetap menyentil isu sosial. Malam ini sangat memuaskan karena ini bukan cuma tontonan, tapi tuntunan hidup yang mengajarkan kita tentang etika dan kepemimpinan,” kata Hadi Prasetyo penuh semangat, berharap acara serupa lebih sering diselenggarakan.
 
Pagelaran ini membuktikan kesenian tradisional seperti wayang kulit masih relevan dan terus diminati, berkat dedikasi para seniman dan peran aktif Taman Budaya Jawa Tengah.
 
*) Reporter: Fanissya Suryaningrum/Zulaikhah Nur Istiqomah/Annisa Luthfi Afifah