Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala (tengah), saat Jumpa Pers di Gedung Rektorat ISI Surakarta, Senin (24/08/2026).
SOLO, solotrust.com- Institusi Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar jumpa pers untuk menyampaikan hasil pertemuan dengan beberapa pihak, terkait kasus viral Expo UKM di Pendopo ISI Surakarta, Senin (24/08/2026) di Rektorat ISI Surakarta, Jalan Ki Hajar Dewantara No. 19, Jebres, Surakarta.
Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala mengatakan, pihaknya tidak menutup kemungkinan memberikan sanksi kepada pihak yang terlibat apabila ditemukan adanya pelanggaran etika.
“Memang harus melibatkan Komite Etik Mahasiswa dan Satgas PPKPD. Nanti akan berembug dan memberikan sanksi terhadap perilaku mahasiswa yang dianggap melanggar etika,” ujar Bondet.
Sebagai tindak lanjut, ISI Surakarta akan membentuk Komite Etik Mahasiswa yang nantinya bekerja sama dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan serta Perlindungan dan Pengaduan (Satgas PPKPD). Kedua unsur tersebut akan mengkaji kejadian dan menentukan langkah yang sesuai berdasarkan aturan yang berlaku di lingkungan kampus.
Bondet menegaskan, pemberian sanksi tidak dilakukan secara serta-merta. Pihak kampus akan terlebih dahulu melakukan kajian dan memastikan fakta kejadian sebelum menentukan bentuk sanksi terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran.
Pihak ISI telah merespon kejadian tersebut sejak awal. Pimpinan kampus menggelar rapat pada Sabtu (22/08/26), sehari setelah kejadian, untuk membahas arah penanganan kasus dan menelusuri pihak pengunggah video.
Selain menangani kasus tersebut, ISI Surakarta menegaskan komitmennya dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya Nusantara, adab, dan etika di lingkungan kampus. Komitmen tersebut salah satunya diwujudkan melalui pelaksanaan Studium General yang akan berlangsung pada 28 Agustus 2026.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta, Aris Setiawan menekankan komitmennya dalam menjaga nilai-nilai luhur budaya Nusantara, adab dan etika di lingkungan kampus. Ia juga menambahkan bahwa ISI Surakarta berencana memberikan penguatan terhadap sejumlah mata kuliah yang berkaitan dengan budaya, seperti mata kuliah Wawasan Budaya Nusantara dan Estetika Nusantara. Penguatan tersebut menyasar mahasiswa baru, mahasiswa lama, hingga tenaga kependidikan.
“Kami bersama dosen mata kuliah yang berbasis budaya akan menguatkan lagi untuk pemahaman bagi mahasiswa serta bagaimana memperlakukan ruang-ruang yang identitasnya berbasis budaya, seperti pendopo, peralatan keris, dan gamelan,” ucapnya.
Menurutnya, penggunaan Pendopo sebagai ruang pertunjukan menjadi bentuk komitmen ISI Surakarta untuk melestarikan kebudayaan. Kampus ingin menjadikan fasilitas tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan dan mempertahankan nilai-nilai budaya.
Selain itu, Rektor ISI Surakarta mengapresiasi kepedulian dan antusiasme masyarakat terhadap berbagai hal yang terjadi di lingkungan kampus. Ia mengimbau kepada masyarakat untuk menyampaikan laporan melalui platform yang telah tersedia apabila menemukan hal-hal yang dinilai kurang berkenan.
ISI Surakarta juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan mahasiswa. Evaluasi tersebut menjadi langkah Institusi untuk memastikan kegiatan mahasiswa berjalan sesuai dengan aturan, etika, serta nilai-nilai budaya yang dijunjung ISI Surakarta.
(Penulis: Dian, Intan, Rieke)
