Group Karawitan Anak Surakarta dalam acara Festival Gamelan Nusantara yang diselenggarakan di Monumen 45 Banjarsari, Solo, Jumat (21/08/2026) malam. (Foto: Intan Pinasti Hanifah)

SOLO, solotrust.com- Festival Gamelan Nusantara menghadirkan beragam Gamelan dari empat daerah di Indonesia di Monumen 45 Banjarsari, Solo, Jumat (21/08/2026) malam. Festival ini mempertemukan sejumlah kesenian gamelan dari berbagai daerah dalam satu panggung, mulai dari Gamelan Ageng (Surakarta), Gamelan Banyumas, Gamelan Bali, Hingga Gamelan Banyuwangi.

Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dengan mengusung tema “Gamelan Nusantara dengan Tembang Dolanan”, festival ini mengajak masyarakat untuk menikmati beragam musik tradisional sekaligus kekayaan budaya Nusantara.

Sebanyak 28 Siswa dari 11 Sekolah Dasar (SD) negeri dan swasta di Surakarta turut ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka bergabung dalam Group Karawitan Anak Surakarta yang mendapat pembinaan dari Dinas Kebudayaan Kota Surakarta.

Rangkaian Acara berlanjut dengan  menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan doa. Sejumlah tamu turut hadir dalam festival ini, diantaranya Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, Maretha Dinar Cahyono, serta sejumlah empu dan maestro seni.

Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala, dalam sambutanya menyampaikan apresiasi kepada para seniman dan seluruh pihak yang berkolaborasi dalam penyelenggaraan Festival Gamelan Nusantara ini. Menurutnya, gamelan tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan sarana pewarisan nilai budaya kepada generasi berikutnya.

 “Gamelan sebagai seperangkat instrumen musik, namun kita sedang berbicara tentang ingatan, tentang identitas dan cara sebuah masyarakat mewariskan nilai kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Bondet mengatakan, tema festival memiliki makna yang luas dan tetap relevan di tengah perkembangan teknologi. Ia mengingatkan agar kemajuan teknologi tidak membuat generasi muda kehilangan nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya.

“Jangan sampai kita mewariskan teknologi kepada anak-anak kita, tetapi kehilangan kemampuan untuk mewarisi nilai,” tegasnya.

Festival Gamelan Nusantara kemudian dibuka secara simbolis oleh Wali Kota Surakarta, Rektor ISI Surakarta, dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta. Ketiganya membuka festival dengan menabuh salah satu alat musik gamelan dari Provinsi Bali. Penabuhan tersebut menandai dimulainya rangkaian pertunjukan.

Selain menampilkan gamelan dari empat daerah, festival ini juga menghadirkan sejumlah bintang tamu, di antaranya sinden asal Kebumen Eka Suranti, Sanggar Wiratama, serta Nami Higuchi dari Jepang dan Rozita Rohaizad dari Malaysia. 

Kehadiran Grup Karawitan Anak Surakarta bersama para seniman dari berbagai daerah juga mancanegara menjadikan Festival Gamelan Nusantara tidak hanya sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pertemuan bagi generasi muda, seniman, dan beragam budaya Nusantara. Festival ini menunjukkan bahwa gamelan dan kesenian tradisional tetap memiliki ruang untuk berkembang dan diwariskan di tengah perubahan zaman.

 

Penulis: Dian, Intan, Rieke