Salah satu pembatik Girilayu yang berada di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar.
KARANGANYAR, solotrust.com – Batik Girilayu yang berada di Desa Girilayu, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, menjadi salah satu sentra batik tulis yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan tradisi Keraton Surakarta. Hingga kini, keberadaan batik tersebut tetap dijaga oleh para perajin yang mempertahankan teknik serta motif klasik yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu pendiri Batik Girilayu, Partinahmenjelaskan, tradisi membatik di wilayah tersebut telah ada sejak lama dan berawal dari para perempuan yang dahulu menjadi abdi dalem di lingkungan Keraton Surakarta, baik di Mangkunegaran maupun Kasunanan. Mereka kemudian mewariskan keterampilan membatik kepada anak dan cucunya.
“Batik Girilayu itu dulu awalnya ibu-ibu perempuan di sini menjadi abdi dalem di keraton Surakarta. Lama-kelamaan mereka mengajarkan membatik kepada anak cucunya, sehingga batik di Girilayu ini sifatnya turun-temurun,” ujarnya.
Partinah menuturkan, dirinya kini merupakan generasi kelima yang meneruskan tradisi tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa keterampilan membatik di Girilayu telah bertahan selama beberapa generasi dan terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.
Selain memiliki sejarah panjang, Batik Girilayu juga memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari batik daerah lain. Salah satunya adalah motif yang terinspirasi dari ikon desa setempat, yaitu Tugu Tridharma yang berada di kawasan makam Pangeran Sambernyawa.
“Di Girilayu ada motif Tugu Tridharma yang menjadi ikon desa. Selain itu kami juga tetap melestarikan motif-motif klasik dengan warna-warna yang khas,” jelas Martina.
Motif klasik dengan warna-warna tradisional masih menjadi favorit bagi para pembeli. Menurut Partinah, motif tersebut paling banyak diminati karena memiliki nilai seni serta filosofi yang kuat.
Meski demikian, para perajin Batik Girilayu juga menghadapi sejumlah tantangan, terutama persaingan dengan batik printing atau batik pabrikan yang proses produksinya jauh lebih cepat. Batik tulis membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama karena seluruh prosesnya dilakukan secara manual.
“Batik tulis prosesnya lama. Kalau ada pesanan tidak bisa langsung jadi, bahkan bisa sampai enam bulan. Tantangan kami sekarang banyak batik printing yang motif dan warnanya mirip, tetapi kami tetap bertahan melestarikan batik tulis,” kata Partinah.
Walaupun menghadapi persaingan, Batik Girilayu tetap memiliki pasar tersendiri. Produk batik dari desa tersebut tidak hanya dipasarkan di berbagai kota di Indonesia, tetapi juga telah dikenal hingga mancanegara.
Menurut Partinah, sebagian pembeli dari luar negeri biasanya datang langsung ke Girilayu. Selain itu, pelanggan dari beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Makassar juga rutin memesan batik dari daerah tersebut.
Di sisi lain, keterampilan membatik di Girilayu juga diwariskan sejak usia muda. Salah satu perajin batik tulis, Larsi, mengaku telah belajar membatik sejak kecil. Ia mulai mengenal teknik membatik ketika berusia sekitar 10 tahun.
“Saya belajar membatik sejak kecil, sekitar umur 10 tahun. Dari dulu memang sudah belajar nerusi atau mengulang dari belakang,” ungkapnya.
Menurut Larsi, lama pengerjaan batik tulis sangat bergantung pada motif yang dibuat. Untuk motif yang sederhana, proses pengerjaan biasanya memakan waktu sekitar satu minggu hingga sepuluh hari. Namun untuk motif yang lebih rumit, pengerjaan dapat berlangsung hingga satu bulan.
“Kalau motifnya mudah biasanya sekitar satu minggu sampai sepuluh hari. Tapi kalau motifnya yang rumit bisa sampai berbulan-bulan,” jelasnya.
Proses pembuatan batik tulis sendiri melibatkan beberapa tahapan, mulai dari menggambar motif, nglowong, ngiseni, proses pewarnaan dengan pencelupan, hingga perebusan kain untuk menghasilkan warna dan pola yang diinginkan.
Dengan proses yang panjang tersebut, Batik Girilayu tidak hanya menjadi produk kerajinan, tetapi juga simbol warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat setempat. Para perajin berharap tradisi membatik di Girilayu dapat terus bertahan dan dikenal lebih luas oleh generasi mendatang.
*) Reporter: Rusida Kurnia Saputri/Diswa Aulia Putri
