Pertunjukan ketoprak kolosal bertajuk Adeging Kutha Sala: Andhudhah Kidungé Simbah digelar di halaman Balai Kota Solo, Sabtu (14/02/2026) malam. (Foto: Dok. solotrust.com/Diswa Aulia Putri)
SOLO, solotrust.com – Pertunjukan ketoprak kolosal bertajuk 'Adeging Kutha Sala: Andhudhah Kidungé Simbah' digelar di halaman Balai Kota Solo, Sabtu (14/02/2026), pukul 19.00 WIB. Pagelaran ini terbuka untuk umum dan dapat disaksikan masyarakat secara gratis.
Pertunjukan ini mengangkat kisah berdirinya Kota Sala yang menjadi cikal bakal Kota Surakarta. Melalui balutan seni tradisional Jawa, penonton diajak menyelami perjalanan sejarah sarat nilai perjuangan, budaya, dan kearifan lokal.
Ketoprak kolosal ini disutradarai Dwi Mustanto dengan naskah dan penata musik oleh Pangah Rudita. Sementara itu, Billy Aldi Kusuma, bertindak sebagai astrada dan Satria Herdinta sebagai penata laga. Kolaborasi para seniman ini diharapkan mampu menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya menghibur, namun juga edukatif.
Digelarnya pertunjukan ini menjadi salah satu upaya pelestarian seni tradisional, sekaligus memperkuat identitas budaya Kota Solo. Selain itu, acara ini juga diharapkan mampu menarik minat generasi muda untuk lebih mengenal sejarah dan kesenian daerahnya.
Mengusung konsep kolosal dan cerita kuat, 'Adeging Kutha Sala' menjadi salah satu agenda budaya menyedot perhatian masyarakat dan wisatawan di Kota Solo. Dua pemain muda, Gio dan Raja (11), siswa kelas lima sekolah dasar (SD), turut tampil dalam kethoprak kolosal ini sebagai Jolodod dan Paijo.
Keduanya mengaku awal terjun ke seni pertunjukan karena ajakan paman dan ketertarikan pribadi. Mereka menyebut tempat latihan tidak menentu, bahkan terkadang sekaligus untuk shooting film di Gipang. Tantangan terbesar justru dirasakan saat pentas.
“Kalau sudah pentas tantangannya lebih berat, harus terus hafalin biar nggak blank,” kata mereka.
Dalam mendalami peran, Gio dan Raja banyak bertanya kepada sutradara. Melalui pementasan ini, keduanya ingin 'memperlihatkan Solo masa kini dan Solo masa dulu' kepada penonton.
Salah satu penonton, Aisyah mengaku terkesan dengan pertunjukan ketoprak kolosal tersebut, meski tidak sepenuhnya memahami bahasa krama alus yang digunakan para pemain.
“Aku pribadi tertarik dan suka sih, walaupun nggak begitu paham bahasanya, kayak krama alus,” ucapnya.
Aisyah menilai acara ini penting sebagai media pelestarian budaya dan edukasi sejarah.
“Penting banget, bahkan aku baru tahu kalau Bengawan Solo dulu namanya Bengawan Semanggi,” kata dia.
Aisyah berharap ke depan ada pementasan sejarah lebih spesifik, seperti asal-usul daerah. Ketertarikan menonton ketoprak ini didasari minat pada sejarah yang menurutnya menarik untuk dipelajari.
*) Reporter: Rusida Kurnia Saputri/Diswa Aulia Putri
