Ilustrasi. (Foto: Pixabay)
Solotrust.com - Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) merilis data perhitungan hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri 2026. Informasi ini disampaikan melalui rilis resmi mengenai posisi hilal pada 29 Ramadan 1447 H, bertepatan dengan Kamis Kliwon, 19 Maret 2026.
Melansir NU Online, berdasarkan data falakiyah, posisi hilal pada tanggal tersebut memang sudah berada di atas ufuk. Namun demikian, ketinggiannya dinilai belum memenuhi kriteria imkanur rukyah atau syarat minimal visibilitas hilal untuk penentuan awal bulan hijriah.
Dalam perhitungan LF PBNU, ketinggian hilal tertinggi tercatat di Kota Sabang, Aceh, dengan tinggi hilal mar’i mencapai 2 derajat 53 menit, elongasi hilal haqiqi 6 derajat 09 menit, serta lama hilal di atas ufuk sekitar 14 menit 44 detik. Sebaliknya, posisi hilal terendah berada di Merauke, Papua Selatan dengan tinggi hilal mar’i 0 derajat 49 menit, elongasi 4 derajat 36 menit, dan lama hilal 6 menit 36 detik.
Sementara itu, di titik pengamatan Jakarta dengan markaz Gedung PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, posisi hilal tercatat setinggi 1 derajat 43 menit 54 detik dengan elongasi 5 derajat 44 menit 49 detik dan lama hilal sekitar 10 menit 51 detik setelah matahari terbenam. Adapun ijtimak atau konjungsi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.25.58 WIB. Seluruh perhitungan tersebut menggunakan metode falak hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer yang lazim digunakan dalam tradisi Nahdlatul Ulama.
Selain LF PBNU, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga merilis prakiraan posisi hilal untuk awal Syawal 1447 H. BMKG mencatat konjungsi terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 01.23.23 UTC atau 08.23.23 WIB.
Pada hari yang sama, waktu matahari terbenam di Indonesia bervariasi, mulai dari pukul 17.48.13 WIT di Waris, Papua, hingga pukul 18.49.39 WIB di Banda Aceh. Dengan memerhatikan waktu konjungsi yang terjadi sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, secara astronomis hilal sudah berada di atas ufuk saat magrib.
Namun demikian, ketinggian hilal di Indonesia pada saat matahari terbenam masih relatif rendah, yakni berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Sementara elongasi geosentris berada pada rentang 4,54 derajat di Waris hingga 6,1 derajat di Banda Aceh.
BMKG juga mencatat umur bulan saat matahari terbenam berada pada kisaran 7,41 jam di Waris hingga 10,44 jam di Banda Aceh. Adapun lama hilal di atas ufuk diperkirakan antara 5,6 menit di Merauke hingga 15,66 menit di Sabang.
Melihat data tersebut, peluang besar menunjukkan Ramadan 1447 H kemungkinan akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal) karena kriteria imkanur rukyah belum terpenuhi. Dengan demikian, Idulfitri 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026.
Meski begitu, penetapan resmi awal Syawal tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang diumumkan LF PBNU serta keputusan sidang isbat pemerintah melalui Kementerian Agama, dijadwalkan berlangsung pada Kamis malam, 19 Maret 2026.
