Kelompok Usaha Kecil Menengah dan Seni Kelurahan Mangkubumen, yang dikenal sebagai Mpoksinah Klamben, menjadi penggerak utama ekonomi kerakyatan dan pelestarian budaya kuliner tradisional di Kota Solo. (Foto: Dok. solotrust.com/Shintia Maharani)
SOLO, solotrust.com - Kelompok Usaha Kecil Menengah dan Seni Kelurahan Mangkubumen, yang dikenal sebagai Mpoksinah Klamben, terus meneguhkan diri sebagai motor penggerak utama ekonomi kerakyatan dan pelestarian budaya kuliner tradisional di Kota Solo. Inisiatif mewadahi puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal ini menonjolkan konsep pasar tradisional dengan sistem pembayaran unik yang telah berjalan sejak 2018.
Pasar kuliner ini berlokasi strategis di Sasono Krido Warga Mangkubumen, Jalan RM Said. Memanfaatkan bangunan joglo ikonik, tempat ini menjadi ruang publik menarik, beroperasi secara berkala pada malam hari, dan kadang di pagi hari untuk mengoptimalkan potensi Sasono Krido.
Pemerintah Kelurahan Mangkubumen bersama warga setempat membentuk Mpoksinah Klamben dengan tujuan utama pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekonomi lokal, khususnya bagi pelaku UMKM dengan modal terbatas. Kehadiran pasar ini juga menjadi upaya konkret untuk melestarikan warisan budaya kuliner Nusantara melalui konsep ‘pasar jadoel’ (zaman dulu).
Salah satu pedagang Jasuke (Jagung Susu Keju) di lokasi, Jaenal merasakan langsung dampak positifnya.
"Saya sudah dua tahun di sini. Berjualan di Mpoksinah itu beda. Suasananya sangat ramai, pembelinya ramai, bahkan dari luar kota," kata dia, Senin (01/12/2025).
Jaenal menambahkan, dukungan fasilitas dan stabilitas pasar disediakan kelurahan sangat membantu para pelaku UMKM.
"Omzet lumayan, per malam bisa didapat. Kami tenang berdagang karena ada jaminan dan dibantu soal permodalan," tambahnya.
Melalui sinergi antara pemerintah kelurahan dan partisipasi aktif warga, Mpoksinah Klamben Mangkubumen menjadi contoh nyata inovasi berbasis kearifan lokal mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara signifikan dan berkelanjutan di Kota Bengawan.
Para pedagang mayoritas menjajakan aneka jajanan dan makanan khas Solo. Konsep ini berhasil menambah nuansa tradisional khas, menarik perhatian masyarakat dan wisatawan.
Pemberdayaan dilakukan pihak kelurahan tak hanya sebatas penyediaan tempat usaha, namun juga mencakup dukungan permodalan. Program ini bertujuan membebaskan pedagang dari jeratan hutang berbunga tinggi, sekaligus mendorong mereka menggunakan kemasan ramah lingkungan, seperti besek atau batok kelapa, sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya dan pengurangan sampah plastik.
*) Reporter: Annisa Luthfi Afifah/Shintia Maharani
