Salah seorang warga menunjukkan banyaknya lalat terperangkap lem, Sabtu (06/12/2025). Akhir-akhir ini banyak lalat masuk ke rumah warga Perumahan Palur Permata Asri Desa Palur.

SUKOHARJO, solotrust.com - Pandangan tak mengenakkan dan bau agak menyengat terjadi di sekitar perumahan Palur Permata Asri (PPA), Dukuh Panjang Rejo, Desa Palur, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Hal itu dikarenakan serbuan lalat yang masuk ke rumah-rumah warga.

Kondisi ini telah terjadi sekira dua pekan terakhir, diduga diakibatkan kandang bebek milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Palur dibangun tanpa pemberitahuan warga setempat. Kandang itu berdiri persis di belakang perumahan PPA yang hanya berjarak sekira 30 meter dari perumahan.

Akibat banyaknya lalat, tercatat ada lebih dari 20 warga mengalami sakit perut atau diare. Salah satu warga Palur Permata Asri, Andi Lala (38), mengatakan semenjak dibangun kandang bebek di belakang perumahan, serbuan lalat dan bau tak sedap mulai menghantui warga.

Jarak kandang begitu dekat dengan perumahan, serbuan lalat ini biasanya terjadi mulai pagi hingga sore hari. Andi Lala pun mengaku memasang perangkap lalat menggunakan lem.

“Saya pasang mulai jam delapan pagi dan baru sebentar saja perangkapnya sudah dipenuhi ribuan lalat. Kalau nuruti pakai perangkap lem mungkin sepuluh aja habis dalam setengah hari,” bilangnya, Sabtu (06/12/2025) 

Menurut Andi Lala, lokasi kandang bebek dengan perumahan warga hanya berjarak sekira 20 hingga 30 meter. Padahal, jika dilihat dari aturan yang ada, jarak kandang dengan perumahan warga, seharusnya minimal seribu meter dan ditembok lima meter untuk setidaknya seribu ekor bebek.

“Itu tidak dilakukan dari pihak BUMDES Palur. Kami berharap kandang bebek itu juga merupakan program pemerintah, itu kan buat ketahanan pangan. Kita dukung semua program pemerintah, asal tidak merugikan warga sekitar,” katanya.

Menurut Andi Lala, ternak bebek tersebut bisa diganti dengan usaha lain, seperti misalnya budidaya ikan nila. Ia meminta agar BUMDES Palur tidak mengorbankan warga perumahan karena berdampak pada masalah kesehatan.

“Kami tinggal di sini tidak satu tahun atau dua tahun lagi, tapi seumur hidup di sini karena nantinya lingkungan kita buat tumbuh kembang anak juga,” ucap Andi Lala.

"Jadi, menurut saya pembangunan itu menabrak regulasi dan efeknya banyak sekali lalat menyerbu ke perumahan kami. Padahal kita tahu sendiri, lalat itu bisa menyebarkan berbagai macam penyakit,” sambungnya.

Sementara itu, Sekretaris Paguyuban Warga Perumahan Palur Permata Asri, Prima Puspoyoga, mengungkap awal pembangunan kandang telah dilakukan semenjak berapa bulan lalu.

“Ada laporan warga saat pertemuan rapat rutin bapak-bapak. Ada warga yang laporan, ada bangunan fondasi itu apa mau dibuat kandang? Pengurus paguyuban sendiri juga tidak tahu, hingga akhirnya bangunan itu berdiri dan beroperasi,” beber Prima Puspoyoga.

“Selanjutnya kami tanyakan kembali ke pak bayan dan katanya itu untuk kandang bebek pedaging. Pak bayan saat itu menjamin tidak ada gangguan lingkungan,” lanjutnya.

Setelah kandang bebek berdiri dan dampaknya muncul bau menyengat serta serbuan lalat ke perumahan, warga pun berinisiatif menggelar pertemuan.

“Kami mengundang kembali hadir di rapat bapak-bapak, November kemarin. Pak bayan pun hadir menjelaskan kembali, menjamin tidak ada dampak lingkungan, padahal belum ada sosialisasi itu mau dibuat apa,” kata Prima Puspoyoga.

Disebutkan, awal keluhan warga muncul bau menyengat dari kandang bebek, terutama dari  Selatan perumahan mulai ada banyak lalat.

"Kalau warga sedang ronda atau lewat di sisi Barat baunya sangat terasa di malam hari. Selain itu juga banyak lalat di perumahan kami dan jumlahnya makin banyak terus. Kemarin ada laporan dari warga, banyak yang terkena sakit diare, ada sekitar 23 warga yang sakit,” urainya.

Rencananya, pada Sabtu malam ini warga perumahan akan berdialog langsung dengan pengelola kandang bebek, yakni kepala desa Palur, bayan, dan direktur BUMDES Palur. (joe)