Ilustrasi (Dok. Pixabay/Elf-Moondance)
Solotrust.com - Bullying adalah suatu tindakan agresif yang berusaha untuk mengontrol atau merugikan orang lain. Sementara cyberbullying berkaitan pada tindakan agresif yang dilakukan berulang dengan niat untuk membahayakan, merendahkan, mempermalukan, dan menakuti orang lain dalam konteks komunikasi melalui media (Müller et al, 2014).
Cyberbullyingpaling rentan dilakukan adalah flaming, membuat komentar kasar, menyebarkan rumor, membuat komentar meneror atau mengancam, dan juga mem-posting foto korban yang memalukan secara online. (Chang et al., 2014).
Dalam konteks tertentu, cyberbullying memiliki arti sangat luas, berikut adalah contoh penindasan didunia maya:
Bahaya lain dari cyberbullying adalah selalu meninggalkan jejak digital yang mana foto/komentar negatif selalu ada dan membekas jika tidak dihapus oleh individu yang menyebarkanya. Hal ini kemudian juga sangat berdampak buruk bagi korban yang mengalaminya, seperti:
Secara mental, kehilangan kepercayaan diri, kehilangan harga diri, stres berlebihan, cemas, depresi, self harm (perilaku menyakiti diri sendiri) hingga percobaan bunuh diri.
Secara emosional, merasa malu, takut, khawatir berlebih, insecure, merasa dikucilkan, merasa kelas pada pelaku cyberbullying, dan rasa ingin balas dendam.
Secara Fisik, stres berkepanjangan dan rasa cemas berlebihan dapat memengaruhi kesehatan fisik mulai dari
Dalam hal ini perasaan yang ditertawakan atau dilecehkan secara terus menerus membuat individu sangat sensitif terhadap masalah tersebut, dan merasa seperti tidak ada jalan untuk keluar.
Oleh karena itu dalam kasusnya, cyberbullying ini sering kali menyebabkan individu/korban depresi, stres, khawatir berlebih, tidak diterima, kurang motivasi, selalu waspada dan curiga terhadap orang lain, dan yang paling ekstrem menyebabkan kematian.
Seperti beberapa kasus yang pernah terjadi akibat cyberbullying:
”Teman-teman di sekolah benar. Saya seorang pecundang, aneh, homo, dan sama sekali tidak dapat diterima orang lain. Saya minta maaf karena tidak mampu membuat seseorang bangga. Sudah waktunya bagi saya untuk meninggalkan dunia ini, Aku bebas sekarang. Xoxo,” kata Carlos mengakhiri suratnya.
Hal tersebut dikarenakan kecantikanya yang mampu memikat para pria dan selalu diidolakan banyak orang, khususnya kaum Adam. Hal tersebut membuat pasangan dari pria tersebut cemburu dan berbondong-bondong menyerang dan mereport akun media sosial dari Reemar.
Tak tahan dengan hal tersebut akhirnya Reemar pamit di media sosial karena ia tak mau perang dalam kebencian ini terus berlanjut, Mengutip dari cuitan Twitter Reemar "Bye TikTok. Bye IG. Bye Twitter. Bye facebook” (@reemar_martin).
Oleh karenanya, peran orangtua sangat berpengaruh dan memiliki peranan sangat penting, Dalam penelitianmya Baldry & Farrington (2000) menunjukkan, orangtua memiliki peranan sangat penting untuk memahami perkembangan bullying dan korbannya.
Sebagai contoh, pelaku bullying sering menggambarkan keluarga mereka sebagai keluarga otoriter dan berantakan, sedangkan korban bullying adalah mereka yang memiliki orangtua sangat permisif (Baldry & Farrington, 2000).
Dengan demikian, korelasi antara pelaku cyberbullying dan peranan orangtua sangat berkaitan. Pelaku cyberbullying biasanya merupakan remaja dengan pengasuhan bebas dan pemantauan orangtua terbatas, serta kurangnya ikatan emosional dengan orangtua mereka, dibandingkan remaja yang tidak pernah terlibat dalam cyberbullying (Wang et al. 2009).
Dengan begitu orangtua merupakan kunci utama dalam pembentukan karakter anak (Baumrind, et al., 2008).
