Dalang muda asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Ki Gondo Wartoyo (kiri) saat diwawancarai wartawan
KLATEN, solotrust.com - Upaya melestarikan wayang kulit tak cukup hanya melalui pementasan atau festival budaya. Dalang muda asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Ki Gondo Wartoyo mengusulkan agar wayang kulit menjadi bagian dari lingkungan sekolah melalui pembelajaran berbasis budaya dan menghadirkan tokoh-tokoh wayang sebagai media edukasi yang dapat dilihat siswa setiap hari.
Gagasan itu disampaikan Ki Gondo Wartoyo saat menjadi narasumber dalam Workshop Penguatan Pembelajaran Berbasis Kebudayaan, diselenggarakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan, Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V di SMAN 1 Karanganom, Kabupaten Klaten beberapa hari lalu.
Dalam forum diikuti para pendidik dan pemangku kepentingan pendidikan itu, Ki Gondo Wartoyo menekankan pentingnya memperkenalkan budaya kepada generasi muda melalui cara yang dekat dengan kehidupan mereka. Menurutnya, sekolah merupakan tempat paling strategis untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa.
"Permintaan saya tidak hanya mengadakan pagelaran wayang kulit, tetapi juga menghadirkan tokoh-tokoh wayang di sekolah. Dengan begitu, siswa dapat mengenal, memahami, dan mencintai budaya bangsa setiap hari," ungkapnya.
Pemilik Sanggar SKWL menilai budaya adalah fondasi pembentukan jati diri bangsa. Pendidikan, katanya, tak hanya berfungsi meningkatkan kemampuan akademik, namun juga membangun karakter melalui nilai-nilai luhur terkandung dalam budaya, seperti kejujuran, gotong royong, tanggung jawab, disiplin, dan sikap saling menghormati.
Menurut Ki Gondo Wartoyo, pelestarian budaya harus berjalan seiring perkembangan zaman. Wayang kulit tak boleh hanya menjadi warisan yang dipertontonkan pada acara tertentu, namun harus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya dan berinovasi.
"Generasi muda bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga penentu masa depan budaya Indonesia. Mereka harus diberi ruang untuk mengenal, memahami, dan mengembangkan budaya sesuai zamannya," ujarnya.
Workshop tersebut dihadiri Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah Basikun, Kepala Seksi SMA dan SLB Bagus Adiroso, serta Kepala SMAN 1 Karanganom Masjhur Tjahjanto.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta disuguhi pagelaran wayang kulit dibawakan dalang cilik, Kondang Kalimosodo. Penampilan tersebut semakin semarak dengan iringan suara merdu sinden cilik, Dira.
Pementasan ini menjadi wujud nyata penguatan pembelajaran berbasis kebudayaan, sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada para siswa dalam mengenal dan mencintai seni tradisi wayang kulit.
Melalui kegiatan ini, Dinas Pendidikan berharap pembelajaran berbasis kebudayaan tak hanya menjadi materi di dalam kelas, namun juga diwujudkan melalui praktik dan apresiasi seni, sehingga mampu menumbuhkan karakter serta kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia. (jaka)
