Tongkat kepemimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sragen resmi berganti. Posisi Kepala Lapas diserahterimakan dari Mohamad Maolana kepada Giyono. Prosesi serah terima jabatan (Sertijab) dipimpin langsung Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Tengah, Mardi Santoso, Senin (20/04/2026)
SRAGEN, solotrust.com – Tongkat kepemimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Sragen resmi berganti. Posisi Kepala Lapas diserahterimakan dari Mohamad Maolana kepada Giyono. Prosesi serah terima jabatan (Sertijab) dipimpin langsung Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Tengah, Mardi Santoso, Senin (20/04/2026).
Acara ini, sekaligus menandai komitmen Lapas Sragen untuk terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak serta mengakselerasi program pemberdayaan warga binaan. Sebagai Kalapas, Giyono mengapresiasi dukungan luar biasa dari jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sragen. Menurutnya, kuatnya kolaborasi antarinstansi adalah kunci utama dalam menjalankan roda organisasi di Lapas.
"Kuncinya adalah kolaborasi dan kerja sama. Tidak ada persoalan yang tidak bisa kita atasi kalau kita melaksanakan kerja sama. Saya sangat mengapresiasi dukungan yang luar biasa," kata Giyono.
Sementara itu, Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Jawa Tengah, Mardi Santoso, menyampaikan di bawah kepemimpinan baru, Lapas Sragen harus berlari kencang dalam mengimplementasikan Asta Cita dan program akselerasi menteri. Fokus utamanya pada ketahanan pangan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta ekonomi kreatif.
Salah satu yang menjadi apresiasi adalah keberhasilan Lapas Sragen dalam menembus pasar internasional. Mardi Santoso mengungkapkan, produk kerajinan warga binaan, salah satunya mainan anjing (dog toys), kini menjadi komoditas ekspor unggulan.
Mengingat tingginya permintaan ekspor mencapai satu kontainer per bulan, Lapas Sragen kini berkolaborasi dengan 15 Satuan Kerja (Satker) lain untuk memenuhi kuota. Sementara itu, produk ekspor disesuaikan dengan kebutuhan negara tujuan yang berbeda-beda.
Terkait pembinaan warga binaan ke depan, Kanwil Ditjenpas Jawa Tengah akan menerapkan metode amati, tiru, dan modifikasi (ATM) untuk meningkatkan kualitas program pembinaan.
"Layanan publik tetap menjadi wajah utama. Jangan sampai kita memprioritaskan satu sisi, namun ada lubang di sisi lain. Saya berharap Pak Giyono mampu mensinergikan pengalaman yang ada dengan seluruh mitra kerja untuk memajukan Lapas Kelas IIA Sragen," tutup Mardi Santoso. (wah)
