Ilustrasi (Foto: Pixabay/Ninosouza)
JAKARTA, solotrust.com - Pemerintah bersama platform Penjaga Harapan berkolaborasi menghadirkan Film Sekolah Rakyat. Film berdurasi 25 menit akan diproduksi dengan pendekatan dramatik, menonjolkan transformasi dari keterbatasan menuju harapan, tanpa mengeksploitasi penderitaan.
Koordinator Konten Penjaga Harapan, Doni Adhitia, mengatakan proyek ini bukan sekadar produksi film, melainkan kerja kolaboratif untuk membawa nilai program ke ruang publik.
“Kami berharap film ini menjadi kerja bersama untuk membawa nilai ideologis Sekolah Rakyat kepada masyarakat. Ini bukan sekadar cerita, tapi upaya menghadirkan empati dan pemahaman bahwa program ini benar-benar menyentuh kehidupan masyarakat,” ungkapnya dalam audiensi perwakilan Kementerian Sekretariat Negara bersama tim kreatif Penjaga Harapan dengan Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono di Kantor Kementerian Sosial, Selasa (23/06/2026).
Hadir dalam audiensi, Direktur Utama Penjaga Harapan Wildanshah, Direktur Perkumpulan Warga Muda I Putu Arya, Art Director Maulana Wedy Irkham, Sutradara Bethap Virga Kiswanata, serta Produser Kiky Malik.
Menanggapi rencana itu, Wamensos Agus Jabo Priyono menyatakan dukungan penuh dan menekankan pentingnya hasil yang berdampak.
“Kalau ini kita mulai, harus berhasil. Ini bukan sekadar produksi, tapi bagaimana masyarakat bisa melihat bahwa negara hadir dan memberi harapan,” tegasnya, dilansir dari laman resmi Kementerian Sosial, kemensos.go.id.
Kementerian Sosial (Kemensos) juga membuka dukungan yang diperlukan dalam proses produksi, termasuk akses lokasi, data, serta koordinasi dengan unit terkait.
Dalam pertemuan itu, Agus Jabo Priyono menegaskan, Sekolah Rakyat merupakan instrumen negara untuk membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, bukan tujuan akhir semata.
“Sekolah Rakyat ini bukan tujuan, tapi alat yang disediakan negara agar anak-anak dari keluarga miskin bisa mewujudkan cita-citanya dan keluarganya bisa tergraduasi dari kemiskinan,” tegasnya.
Agus Jabo Priyono menjelaskan, mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 DTSEN dengan kondisi ekonomi sangat terbatas. Melalui konsep boarding school, program ini menghadirkan akses pendidikan layak tanpa terkendala zonasi maupun keterbatasan geografis.
Film diinisiasi melalui platform Penjaga Harapan ini dirancang sebagai medium penyampaian nilai dan pesan program kepada masyarakat luas. Cerita akan mengangkat perjalanan seorang anak dari keluarga sederhana semula harus bekerja, hingga akhirnya mendapatkan kesempatan bersekolah.
Direktur Utama Penjaga Harapan, Wildanshah bilang, inisiatif ini penting sebagai jembatan komunikasi kebijakan kepada publik.
“Kami melihat film ini sebagai bagian dari upaya menyampaikan program pemerintah secara lebih membumi dan mudah dipahami masyarakat. Substansi program tetap milik negara, dan pendekatan kreatif seperti ini menjadi pelengkap untuk memperluas jangkauan pesan,” kata Wildanshah.
Film akan diproduksi dengan durasi 25 menit. Selain itu akan disiapkan versi singkat berdurasi 30 detik sebagai trailer untuk distribusi di berbagai kanal publik seperti videotron.
Produksi film ini diharapkan dapat memperluas keterlibatan komunitas perfilman dalam menyampaikan program strategis pemerintah, sekaligus memperkuat pemahaman publik bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kunci dalam pengentasan kemiskinan.
Film ini merupakan karya kolaboratif mengangkat kisah anak dari keluarga miskin ekstrem yang berjuang mengakses pendidikan. Dengan latar wilayah seperti Cariu dan sekitarnya, cerita menampilkan transformasi kehidupan seorang anak dari kondisi harus bekerja setiap hari, hingga akhirnya memperoleh kesempatan belajar di Sekolah Rakyat.
Mengusung pesan 'dari gelap menuju terang', film ini menitikberatkan pada harapan baru bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, serta akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi dan zonasi. Film Sekolah Rakyat juga menitikberatkan pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kepercayaan diri, termasuk peran negara dalam memuliakan masyarakat miskin
Produksi direncanakan berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan berbasis riset dan konsultasi bersama Kemensos serta komunitas film.
