Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Desa Wisata di Boyolali, digelar Yayasan Kuas Global Academia di salah satu hotel setempat, Sabtu (22/08/2026)
BOYOLALI, solotrust.com – Pengembangan desa wisata di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus didorong melalui sinergi antara masyarakat, pelaku usaha, dan komunitas pariwisata. Upaya itu dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) Pengembangan Desa Wisata di Boyolali, digelar Yayasan Kuas Global Academia di salah satu hotel setempat, Sabtu (22/08/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Lembaga Desa Wisata Tamansari, Banyuwangi, Jawa Timur, Mahsun, menjadi salah satu narasumber. Ia menilai Boyolali memiliki potensi wisata yang tidak kalah dibandingkan daerah lain, termasuk Banyuwangi.
“Potensi Boyolali sebenarnya tidak kalah dengan Banyuwangi. Hal yang perlu dibenahi adalah sumber daya manusianya, bagaimana wisata ini bisa berkembang serta bagaimana membangun branding secara kuat,” ujar Mahsun kepada wartawan.
Menurutnya, pengembangan desa wisata membutuhkan keterlibatan seluruh unsur yang ada di desa, mulai dari masyarakat, sumber daya alam hingga pemerintahan. Ketiganya harus mampu bersatu sehingga menjadi kekuatan dalam membangun sektor pariwisata.
Pariwisata bukan sekadar bisnis, namun merupakan sebuah industri yang mampu mengakomodasi berbagai aspek, baik sosial kemasyarakatan maupun ekonomi. Selain itu, sektor pariwisata juga dapat mendorong masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai Sapta Pesona, seperti menjaga keamanan, ketertiban, kebersihan, kedisiplinan, hingga menghadirkan suasana nyaman bagi wisatawan.
Mahsun menegaskan, desa wisata tak harus mengubah seluruh potensinya. Justru, karakter dan keunikan lokal menjadi sesuatu yang harus dijual kepada wisatawan.
Ia menyebut, Bali dan Yogyakarta menjadi contoh daerah yang mampu mengembangkan pariwisata dengan mengandalkan kekuatan budaya dan karakter lokal. Mahsun juga mengapresiasi terbentuknya forum mempertemukan berbagai komunitas dan pelaku usaha pariwisata di Boyolali.
“Kami berharap pariwisata di Boyolali bisa bangkit bersama-sama, mengemban amanah kebersamaan, maju bersama dan sejahtera bersama,” katanya.
Setidaknya ada tiga hal utama harus dimiliki dalam membangun desa wisata, yakni tujuan, kemauan, dan komitmen. Setelah berkeliling melihat sejumlah potensi wisata di Boyolali selama beberapa hari, Mahsun menilai kabupaten ini memiliki berbagai sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata unggulan.
Ia menyebut tiga potensi yang dinilai sangat besar, yakni sektor susu dan peternakan sapi, kopi, serta kerajinan tembaga. Boyolali selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi susu, namun potensi tersebut belum sepenuhnya dikembangkan menjadi wisata edukasi.
“Boyolali ini kan sentra susu, tetapi selama ini yang dijual hanya susunya. Edukasinya masih belum banyak terekspos. Ini yang perlu ditingkatkan,” ujarnya.
Selain susu, kopi Boyolali juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari branding wisata daerah. Terlebih, kopi asal Boyolali telah mampu menembus level internasional melalui berbagai ajang kompetisi.
Potensi lainnya adalah kerajinan tembaga. Mahsun menilai, sentra kerajinan tembaga di Boyolali memiliki keunikan yang perlu lebih diperkenalkan kepada masyarakat luas.
“Kerajinan tembaga ini sebenarnya sentranya ada di sini, tetapi selama ini identik dengan daerah lain. Ini karena edukasi dan branding yang masih perlu diperkuat,” katanya.
Diharapkan pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta media ikut mengambil peran dalam memperkenalkan berbagai potensi dimiliki Boyolali.
Sementara itu, pengusaha Lois Sutarto mengatakan kegiatan FGD menjadi momentum untuk menyatukan berbagai potensi yang ada di Boyolali agar dapat disinergikan menjadi kekuatan pariwisata.
“Sebenarnya banyak kantong-kantong potensi. Bagaimana menyatukan dan mensinergikan sehingga pariwisata lebih berkembang. Kalau sudah berkembang, harapannya pendapatan masyarakat meningkat,” kata Lois.
Pihaknya sengaja menghadirkan Mahsun dari Banyuwangi untuk berbagi pengalaman mengenai pengembangan desa wisata yang telah berjalan di daerah tersebut. Konsep desa wisata dinilai mampu melibatkan berbagai unsur dan pemangku kepentingan di tingkat desa sehingga terjalin sinergi kuat.
Ketua FGD Pengembangan Desa Wisata Boyolali, Dwi Adi Agung Nugroho, mengatakan forum ini diikuti berbagai elemen masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan pengembangan pariwisata di Boyolali. Sebelum pelaksanaan FGD, pihaknya juga telah melakukan pengecekan terhadap sejumlah destinasi wisata di wilayah Boyolali.
“Kami sudah melihat sejumlah potensi wisata di Boyolali dan memang banyak yang berpotensi untuk dikembangkan. Harapannya, melalui forum diskusi ini ke depan pengembangan desa wisata bisa dilakukan secara bersama-sama dan lebih terarah,” ungkap Dwi Adi Agung Nugroho.
Keberadaan forum ini diharapkan mampu menyamakan visi dan misi seluruh pihak dalam mengembangkan pariwisata Boyolali. Adanya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, komunitas, pengelola desa wisata dan dunia usaha, potensi wisata Boyolali diharapkan semakin dikenal serta mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. (jaka)
