Daratan yang muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau. (dok. net)
Solotrust.com- Baru-baru ini warga tengah ramai berbincang dengan munculnya daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau (GAK), atau tepatnya di antara Pulau Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Apakah ini memang sebuah pulau baru atau sekdar endapan dari bekas letusan anak Krakatau?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono melalui akun twiternya menjelaskan bahwa daratan tersebut adalah endapan yang terakumulasi material vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.
“Daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut. Proses penumpukan ini berlangsung bertahap seiring meningkatnya aktivitas gunung tersebut, hingga akhirnya endapan menyembul ke permukaan air.” Tulis Daryono di X @daryono_eq_talk.
Menurutnya terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor geologis dan oseanografis. Dasar laut di area kaldera purba sisa letusan 1883 tersebut tergolong dangkal, sehingga material erupsi lebih cepat menumpuk tinggi.
Selain itu, lontaran piroklastik dan aliran lava selama erupsi memang dominan terlempar ke arah sektor tersebut.
“Dinamika arus serta gelombang laut Selat Sunda juga berperan penting sebagai pemindah sedimentasi yang membawa material erosi ringan ke titik-titik perairan yg lebih tenang hingga mengendap secara permanen.” Tulisnya lagi.
Ia pun mengimbau agar masyarakat tidak mudah terprovokasi yang beredar di media sosial.
“Menghadapi fenomena ini, masyarakat diimbau utk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu spekulatif yang beredar di media sosial. Kemunculan daratan baru ini adalah proses sedimentasi vulkanik yg lumrah di kawasan gunung api aktif.” Imbaunya.
