KGPAA Mangkunegara X menyampaikan pidato atau sabda dalem yang sarat akan pesan filosofis mengenai etika dan esensi kehidupan di era modern dalam prosesi Tingalan Jumenengan yang berlangsung di Pendopo Ageng, Selasa (27/01/2026). (Dok. TATV)
SOLO, solotrust.com - Pura Mangkunegaran menggelar Tingalan Jumenengan (Peringatan Kenaikan Takhta) ke-4 KGPAA Mangkunegara X, Selasa (27/01/2026). Dalam prosesi berlangsung khidmat di Pendopo Ageng, penguasa muda Mangkunegaran ini menyampaikan pidato atau Sabda Dalem yang sarat pesan filosofis mengenai etika dan esensi kehidupan di era modern.
Di hadapan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka dan ribuan tamu undangan, sosok akrab disapa Gusti Bhre menekankan kebahagiaan bukanlah sekadar capaian material yang dikejar dengan tergesa. Baginya, kebahagiaan sejati adalah sebuah ‘laku’ atau proses spiritual dalam menata batin.
"Kebahagiaan lahir dari cara manusia menata batin, bersikap jernih, dan memaknai perjalanan hidup dari hari ke hari. Dari kesadaran itu akan terpancar tata krama yang tulus, bukan sekadar kebiasaan lahiriah," ungkap Mangkunegara X dalam pidatonya.
Ia juga menyoroti pentingnya prinsip eling lan waspada. Menurutnya, kesadaran penuh terhadap diri sendiri dan lingkungan adalah fondasi bagi sikap andhap asor (rendah hati). Mangkunegara X menegaskan, tata krama adalah instrumen utama untuk memanusiakan manusia, sekaligus menjaga kerukunan di ruang publik.
Dalam sambutannya, Gusti Bhre menekankan pentingnya visi Mangkunegaran agar selaras dengan perkembangan zaman. Pada kesempatan itu pula diserahkan serat kekancingan kepada sejumlah tokoh masyarakat.
Sebagai informasi, Tingalan Jumenengan menjadi agenda sakral yang rutin digelar setiap tahun. Tingalan Jumenengan merupakan peringatan tahunan atas hari naik takhta penguasa Mangkunegaran. Kata ‘tingalan’ berarti peringatan, sementara ‘jumenengan’ berasal dari kata jumeneng yang bermakna bertakhta.
Menggunakan perumpamaan penunggang kuda, Mangkunegara X mengingatkan, memiliki tujuan besar harus dibarengi dengan ketepatan cara.
"Cara menentukan apakah tujuan kita membawa kebaikan atau justru kelelahan tanpa makna," tambahnya.
Di akhir sambutan, Mangkunegara X menegaskan visinya untuk menjadikan Pura Mangkunegaran lebih dari sekadar bangunan fisik bersejarah. Ia berharap, institusi ini menjadi ‘rumah’ inklusif, tempat masyarakat dapat menyerap nilai-nilai luhur yang tetap relevan dengan tantangan zaman.
Peringatan Jumenengan tahun ini tampil beda dengan kehadiran seribu siswa-siswi sekolah. Langkah ini merupakan bagian dari strategi kebudayaan Mangkunegara X untuk mendekatkan warisan sejarah kepada generasi zilenial (gen z) agar nilai-nilai Mataram Islam tetap lestari dan memberikan inspirasi bagi masa depan Indonesia. (Zahra /Tasya)
