Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Bondet Wrahatnala saat menjadi narasumber acara talkshow bersamaan dengan peluncuran unit bisnis TA Bizz di Gedung TA Media Group, Jumat (23/01/2026). (Foto: Dok. solotrust.com)
SOLO, solotrust.com - Masa depan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Solo diprediksi akan semakin cerah melalui penguatan kolaborasi lintas sektor. Hal ini mengemuka dalam diskusi panel, menghadirkan Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani dan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Bondet Wrahatnala, sebagai narasumber utama bertajuk 'UMKM Solo Masa Depan: Kebijakan, Peluang, dan Akses Modal' yang digelar bersamaan dengan peluncuran unit bisnis TA Bizz di Solo, Jumat (23/01/2026).
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyampaikan jumlah UMKM di wilayahnya mengalami pertumbuhan sangat pesat. Berdasarkan data pemerintah daerah, saat ini terdapat lebih dari 18 ribu pelaku UMKM tersebar di berbagai sektor, mulai dari kuliner, fashion, batik, kerajinan, jasa, hingga perdagangan.
“UMKM di Solo tumbuh sangat cepat dan menjadi tanah yang subur untuk ekonomi daerah. Tidak hanya food and beverage, tetapi juga batik, kerajinan, jasa, dan sektor lain yang terus berkembang,” urai Astrid Widayani.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo berkomitmen mendampingi UMKM agar tidak hanya bertahan, namun juga naik kelas melalui pendekatan berbasis bisnis dan kewirausahaan. Berbagai program telah disiapkan, seperti UMKM Center, Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), rumah kemasan, hingga dukungan digitalisasi pemasaran.
“Mindset UMKM sekarang bukan lagi sekadar berdagang, tetapi menjadi pengusaha. Mulai dari legalitas, kemasan, branding, inovasi produk, hingga pemasaran digital,” katanya.
Astrid Widayani juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, perbankan, media, dan pelaku usaha. Menurutnya, UMKM tidak bisa berkembang jika berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci diferensiasi produk dan peningkatan daya saing.
Sementara itu, Rektor ISI Surakarta, Bondet Wrahatnala, menyampaikan perguruan tinggi siap berperan aktif dalam mendukung UMKM melalui pendekatan seni, desain, dan kreativitas. ISI Surakarta, kata dia, diarahkan menjadi entepreneur university yang tidak hanya fokus pada akademik, namun juga menghadirkan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Kampus bukan menara gading. Kami siap berkolaborasi mendampingi UMKM, mulai dari desain kemasan, branding, fotografi produk, hingga storytelling,” ujar Bondet Wrahatnala.
Ia menilai, seni dan desain merupakan investasi penting bagi UMKM agar produk memiliki identitas kuat dan mampu menjangkau segmen pasar lebih luas, termasuk generasi muda. Contoh kolaborasi desain batik modern, menurutnya telah terbukti meningkatkan nilai jual produk UMKM.
Dalam diskusi tersebut, para pelaku UMKM juga menyampaikan aspirasi terkait keterbatasan teknologi, pelatihan digital, hingga akses tempat usaha. Menanggapi hal itu, Astrid Widayani menyatakan pemerintah akan terus membuka ruang pelatihan gratis, pendampingan digital, serta evaluasi lokasi-lokasi usaha UMKM yang dinilai kurang optimal.
“Kami akan meninjau langsung dan melakukan evaluasi. Prinsipnya, UMKM harus terus bergerak, berinovasi, dan tidak menyerah untuk naik kelas,” pungkas Astrid Widayani. (Anastasya Zefanya/Mutiara Agustina)
