Monumen Pers Nasional menggelar Pameran Warta Pariwara pada 10 hingga 28 Februari 2026 dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ke-48 yang jatuh pada 9 Februari 2026. (Foto: Dok. solotrust.com/Diswa Aulia Putri)
SOLO, solotrust.com - Monumen Pers Nasional di Kota Solo, Jawa Tengah merupakan bangunan bersejarah yang menjadi saksi penting perjalanan pers Indonesia. Gedung dulunya bernama Societeit Sasana Soeka ini menjadi lokasi berlangsungnya kongres Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 1978.
Gedung ini resmi ditetapkan sebagai Monumen Pers Nasional dan hingga kini berfungsi sebagai pusat dokumentasi serta pelestarian arsip pers di Indonesia.
Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional ke-48 yang jatuh pada 9 Februari 2026, Monumen Pers Nasional menggelar Pameran Warta Pariwara pada 10 hingga 28 Februari 2026. Pameran ini menghadirkan berbagai koleksi benda, merepresentasikan perkembangan iklan dari masa ke masa.
Pameran temporer mengangkat tema 'Warta Pariwara' resmi dibuka pada Selasa (10/02/2026). Acara ini turut dihadiri wakil wali kota Solo, rektor Universitas Sebelas Maret (UNS), perwakilan Museum Penerangan, komunitas sejarah, perwakilan museum di wilayah Solo Raya, Duta Monumen Pers, serta sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kota Solo.
Ketua pelaksana kegiatan, Agil Laksmana Putra, menjelaskan pameran ini merupakan program tahunan Monumen Pers yang biasanya diselenggarakan setiap Februari.
“Sebenarnya ini program tahunan dari Monumen Pers. Hampir setiap tahun selalu ada pameran temporer dan biasanya dilaksanakan pada Februari,” ungkapnya.
Sejumlah benda dipajang dalam pameran ini, di antaranya motor Suzuki RC 100 Bravo rilisan 1999, televisi tabung Polytron, kamera Olympus 2004, mesin ketik Olympia, hingga berbagai produk legendaris, seperti kaleng marie regal, param kocok, susu carnation, ultra milk, KFC, dan kacang kulit dua kelinci.
Dalam pameran ini, seluruh materi dipajang bersumber dari koleksi internal Monumen Pers. Arsip-arsip tersebut sebelumnya telah didigitalisasi, kemudian dicetak ulang sesuai ukuran dan kebutuhan display pameran.
“Sebenarnya semua yang dipajang ini sumbernya dari koleksi kami, jadi kami cari dari koran yang sudah terdigitalisasi, kemudian kami cari sumbernya lalu dicetak ulang sesuai ukuran yang kami inginkan,” kata Agil Laksmana Putra.
Melalui pameran ini, pengunjung diajak mengenal sejarah perkembangan iklan pada zaman dahulu, mulai dari media cetak hingga elektronik. Kegiatan ini tak hanya menjadi bagian dari peringatan Hari Pers Nasional, namun juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda untuk memahami peran iklan dalam dinamika dunia pers dan komunikasi di Indonesia.
Salah satu pengunjung, Nisa, mengaku antusias setelah mengunjungi Pameran Warta Pariwara di Monumen Pers Nasional. Ia menilai pameran tersebut sangat menarik karena menghadirkan berbagai produk dan benda lawas, mengingatkannya pada perkembangan iklan dari masa ke masa.
Menurut Nisa, pameran ini tidak hanya memberikan hiburan, namun juga menambah wawasan tentang sejarah periklanan di Indonesia.
“Senang bisa berkunjung di pameran hari ini. Saya jadi tahu perbedaan dan perkembangan iklan produk-produk, seperti margarin, ada juga sabun mandi. Selain iklan produk, saya juga tahu kalau ternyata tulisan zaman dulu dan sekarang sudah sangat berbeda dan lebih simpel menurut saya,” kata Nisa.
*) Reporter: Rusida Kurnia Saputri/Diswa Aulia Putri
