Pameran industri grafika Jogja Printing Expo 2026 secara resmi dimulai hari ini dan akan berlangsung hingga 11 April 2026 mendatang
YOGYAKARTA, solotrust.com – Pameran industri grafika Jogja Printing Expo 2026 secara resmi dimulai hari ini dan akan berlangsung hingga 11 April 2026 mendatang. Bertempat di Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, acara digelar untuk kali kedua oleh Krista Exhibitions Group ini kembali hadir sebagai ajang vital bagi para pemain industri percetakan.
Tak hanya menjadi tempat memamerkan inovasi teknologi mutakhir, pameran ini juga dirancang untuk memperluas jaringan bisnis, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor percetakan nasional. Kehadirannya menegaskan posisi Yogyakarta sebagai pusat industri grafika potensial, sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor yang relevan dengan kebutuhan industri modern.
Dalam sambutannya, CEO Krista Exhibitions, Daud D Salim, menjelaskan Jogja Printing Expo 2026 merupakan bukti nyata komitmen perusahaan dalam memajukan industri percetakan Tanah Air. Menurutnya, pameran ini menjadi sarana untuk mendekatkan teknologi terkini kepada para pelaku kreatif, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta pasar potensial di Yogyakarta.
Acara ini sengaja dirancang sebagai platform strategis untuk memperkuat koneksi bisnis, memperluas pertukaran pengetahuan, serta mengenalkan terobosan teknologi sesuai kebutuhan industri saat ini.
“Kami berharap sinergi yang terbangun di Jogja Printing Expo 2026 dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan daya saing industri percetakan Indonesia secara berkelanjutan,” kata Daud D Salim.
Sebanyak 35 peserta turut serta dalam pameran kali ini, termasuk 15 di antaranya merupakan UMKM. Berbagai rangkaian teknologi percetakan terdepan dipamerkan, mulai dari mesin digital printing beresolusi tinggi dengan reproduksi warna presisi, konsistensi kualitas stabil, hingga efisiensi tinta yang optimal.
Teknologi CMYK+ ditampilkan dinilai menjadi solusi tepat untuk cetak komersial, fotografi, hingga produksi kemasan premium yang terus berkembang. Para produsen mesin percetakan juga memamerkan mesin offset, rotogravure, dan flexo modern sudah dilengkapi sistem otomasi, pengaturan tinta digital, konsumsi energi rendah, serta integrasi internet of thing (IoT) untuk pemantauan dan kontrol produksi secara real-time.

Beberapa peserta lain menghadirkan teknologi UV-curing dan hybrid printing, memungkinkan proses cetak pada beragam media, seperti akrilik, kaca, aluminium, kayu, hingga material bertekstur. Solusi ini mendukung peningkatan layanan personalisasi yang sedang menjadi tren di pasar kreatif dan UMKM.
Pameran ini juga menampilkan mesin label digital berkecepatan tinggi, printer flexo berpresisi tinggi, serta teknologi penyelesaian, seperti embossing, hot stamping, cold foil, dan efek holografik untuk memperkuat nilai visual dan daya tarik branding produk.
Selain itu, tersedia pula solusi finishing berupa mesin laminasi gloss dan matte, die-cutting otomatis, serta mesin binding komersial yang semakin dibutuhkan untuk menambah nilai tambah produk cetak. Sejalan dengan tren keberlanjutan global, sejumlah peserta memperkenalkan tinta berbasis air, material daur ulang (recyclable), serta mesin berdaya listrik rendah demi mendukung industri percetakan lebih ramah lingkungan.
Jogja Printing Expo 2026 digelar bersamaan dengan tiga pameran lain, yakni Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Pack & Process Expo, dan Jogja All Tea Expo 2026. Penyatuan keempat pameran dalam satu lokasi ini memperkuat integrasi antarsektor industri, khususnya percetakan, pengemasan, dan makanan-minuman, sekaligus membuka peluang kerja sama lintas sektor lebih luas.
Salah satu agenda utama kembali hadir adalah program Business Matching. Program ini dirancang untuk mempertemukan peserta dengan investor, distributor, serta penyedia teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri. Melalui pertemuan terkurasi ini, pelaku usaha diharapkan mampu menjalin kemitraan baru dan memperluas jaringan usaha secara efektif.
Kesuksesan penyelenggaraan Jogja Printing Expo 2026 tak lepas dari dukungan berbagai pihak, antara lain Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kota Yogyakarta, Kementerian Pariwisata, Kementerian Perdagangan, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, KADIN Daerah Istimewa Yogyakarta, Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Jogja Chinese Art & Culture Center (JCACC), serta Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
