Talkshow Festival Pers dalam acara pameran foto Hari Pers Nasional di Monumen Pers Nasional Solo, Kamis (01/02/2024). (Foto: Dok. solotrust.com/Sabrina Dwi Cahya)

SOLO, solotrust.com - Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini menjadi sesuatu yang unik karena dikaitkan dengan pemilihan umum (Pemilu). Adapun tema kali ini adalah 'Peran Pers Mengawal Pesta Demokrasi dari Masa ke Masa'. 
 
Mengambil tempat di Monumen Pers Nasional Solo, kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi kepada wartawan dan media dalam menyukseskan pesta demokrasi untuk menampilkan karya-karya jurnalistik dari pemilu pertama 1955 hingga 2009. 
 
Dinding dihiasi foto dan kliping berita tidak hanya memiliki nilai estetikanya sendiri, melainkan menjadi sarana bernostalgia sebuah momen luar biasa indah dari perjalanan demokrasi Indonesia yang tidak bisa diulang kembali. 
 
 
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Solo, Anas Syahirul, menyampaikan masing-masing zaman memiliki masanya. Peringatan HPN ini merupakan kajian sejarah dan refleksi perkembangan pers dari sarana pemberitaan, namun tidak mengubah tanggung jawab dan orientasi pers itu sendiri. 
 
“Kalau dilihat pers selalu berorientasi pada masyarakat bagaimana ia berperan pada saat pemilu, kemudian di awal termasuk masa perjuangan terbentuknya organisasi PWI dari berbagai daerah, itu juga datang di sini. Berjuang untuk membantu mempertahankan kemerdekaan lewat tulisan-tulisannya,” ungkapnya pada Talkshow Festival Pers, dalam acara pameran foto Hari Pers Nasional, Kamis (01/02/2024).
 
Zaman dulu, kata Anas Syahirul, media yang digunakan adalah surat kabar atau koran. Pasalnya, saat itu eksistensi media cetak sangat kuat. 
 
"Sekarang di era gen z dan milenial, kekuatan pers terkuat ada di media digital, contohnya media sosial. Artinya kondisi-kondisi itu hanya berbeda platform saja, tapi tanggung jawab dan orientasi konten tetap sama,” tambahnya. 
 
 
Salah satu anggota Himpunan Mahasiswa Komunikasi, Pradana Heta, merasa dirinya seperti dibawa ke pesta demokrasi autentik tempo dulu saat melihat karya-karya jurnalistik menghiasi dinding Monumen Pers Solo. 
 
“Jujur sangat terkesima ya lihatnya, jadi kaya oh tahun dulu demokrasinya seperti ini, partainya juga seperti ini, dan selalu ada perbedaan dan perubahan di tiap masa pemilu yang ada,” ucap dia. 
 
Sementara itu, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Usman Kansong, memberikan pesan mengenai bisnis pers dan konstelasi politik harus perpegang teguh pada personal integrity dan critical thinking
 
“Bisnis pers itu adalah bisnis yang unik karena orientasinya bukan semata-mata profit, tapi kepada kepentingan publik. Saya melihat masyarakat kita memiliki peran yang sangat besar untuk menjaga pers itu sendiri, sehingga sikap kritis dan kritikan mengawasi pers itu sendiri membuktikan bahwa masyarakat semakin cerdas, literasinya sudah semakin tinggi,” jelasnya.
 
*) Reporter: Sabrina Dwi Cahya/Giacinta Diva Nathania