Kegiatan rembug media sosial bertema Menghidupkan Sejarah lewat Lensa Digital di Museum Raden Hamong Wardoyo Boyolali, Rabu (30/09/2026)

BOYOLALI, solotrust.com – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Boyolali mendorong generasi muda untuk mengenal, sekaligus menghidupkan kembali sejarah dan budaya daerah melalui kreativitas digital. Upaya itu dilakukan melalui kegiatan rembug media sosial bertema 'Menghidupkan Sejarah lewat Lensa Digital' di Museum Raden Hamong Wardoyo Boyolali, Rabu (30/09/2026).
 
Kegiatan ini mempertemukan wartawan, kreator konten, serta pelajar untuk berdiskusi mengenai pemanfaatan media digital dalam memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Boyolali.
 
Kepala Disdikbud Kabupaten Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, mengatakan rembug media sosial digelar secara rutin dengan memanfaatkan dana operasional museum. Tujuannya agar keberadaan museum semakin dikenal masyarakat, khususnya generasi muda.
 
“Kita mengambil tema menghidupkan sejarah lewat penyelenggaraan lensa digital. Kegiatan ini diselenggarakan setiap tahun agar museum lebih dikenal lagi,” ungkapnya.  
 
Perkembangan media sosial dan hadirnya berbagai platform digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan sejarah serta budaya kepada masyarakat luas. Dwi Hari Kuncoro berharap, para pelajar yang mengikuti kegiatan tak hanya menjadi kreator konten, namun juga memahami sejarah dan budaya daerah ketika memroduksi konten digital.
 
Rembug media sosial juga diikuti sejumlah pelajar dari SMK Negeri 1 Boyolali dan wartawan. Selain menjadi ruang bertukar gagasan, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara jurnalis, kreator konten, dan generasi muda dalam memromosikan potensi sejarah serta kebudayaan daerah.
 
Keberadaan museum diharapkan tak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah. Museum juga dapat dimanfaatkan sebagai ruang publik dan studio kreatif bagi masyarakat, termasuk pelajar vokasi.
 
“Kami berharap kegiatan ini bermanfaat bagi jurnalis dan konten kreator untuk bersilaturahmi, berkumpul, dan bertukar pikiran. Ketika hadir di museum, mereka juga bisa memberitakan sejarah dan budaya Boyolali,” kata Dwi Hari Kuncoro.
 
Dalam kegiatan rembug media sosial, museum juga menjadi ruang belajar dan eksplorasi bagi pelajar. Pada saat bersamaan, sejumlah siswa sekolah dasar tengah melakukan kunjungan ke museum.
 
Dwi Hari Kuncoro menyebut, kondisi ini menunjukkan museum merupakan ruang publik yang dapat dimanfaatkan berbagai kalangan.
 
“Kebetulan kegiatan ini berbarengan dengan kunjungan anak-anak SD karena memang ini ruang publik, kami tidak bisa membatasi. Harapannya kegiatan tetap berjalan lancar dan anak-anak yang berkunjung juga tetap bisa menikmati museum dengan suka cita,” bilangnya.
 
Melalui kegiatan rembug media sosial, Disdikbud Boyolali berharap museum semakin dekat dengan generasi muda. Pemanfaatan teknologi digital dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk membuat sejarah dan budaya lokal lebih mudah dikenal serta dipelajari masyarakat. (jaka)