Kamis , 13 Mei 2021

Unik! Nuzulul Quran, Santri Ngaji di Tempat Terbuka Diterangi Senthir

3 Mei 2021 13:35 WIB


Peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali dilakukan dengan khataman Alquran di lapangan terbuka, Minggu (02/05/2021) malam. (Dok. Istimewa/jatengprov.go.id)

BOYOLALI, solotrust.com – Peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali dilakukan dengan khataman Alquran di lapangan terbuka, Minggu (02/05/2021) malam. Proses khataman mengandalkan penerangan senthir alias lampu minyak.

Pengasuh Ponpes Nurul Hidayah Al Mubarokah, Nur Rohman menjelaskan, kegiatan rutin ponpes yang berdiri sejak 2005 ini diadakan setiap tahun. Prosesi pengajian diawali dengan berbuka puasa bersama di ponpes. Selanjutnya para santri melakukan kirab dari ponpes menuju tempat terbuka.



Adapun dari 250 santri, sebanyak 30 santri mengikuti kegiatan khataman Alquran. Satu santri mengaji satu juz sehingga dalam semalam terselesaikan 30 juz.

“Supaya menggugah, mengingat anak-anak ini, zaman dahulu sebelum ada listrik masuk juga begini ini suasana untuk mengajinya,” terangnya, dilansir dari Portal Resmi Provinsi Jawa Tengah, jatengprov.go.id.

Nur Rohman mengatakan, sebelum pandemi Covid-19 kegiatan tidak hanya diikuti para santrinya, namun juga diikuti masyarakat sekitar. Khataman Alquran di lapangan terbuka dilakukan agar menambah konsentrasi santri saat mengaji.

“Kalau sudah di alam terbuka begini, keadaan juga nyaman, bacanya juga sangat menyentuh ke hati, untuk hadir hati ini ke hadirat keridaan Allah,” ungkap Nur Rohman.

Terpisah, salah seorang santriwati, Inayaturohmah, mengaku senang dengan kegiatan khataman Alquran yang sudah tiga kali diikutinya. Kendati demikian, ia masih merasakan kesulitan dalam membaca Alquran karena senthir yang menerangi pada saat mengaji di lapangan terbuka terkadang tertiup angin.

“Kita lebih bisa khusyuk dan bisa mengikuti pelajaran Baginda Nabi (Muhammad) zaman dahulu,” kata Inayaturohmah.

Usai mengaji satu juz, santriwan Muhammad Syafirul Hidayat mengaku lebih khusyuk pada kegiatan yang sering diikuti setiap tahunnya.

“Kita bisa merasakan ketenangan, khusyuk yang lebih khusyuk. Kita bisa merasakan pada zaman dahulu di kala tidak ada listrik,” ujarnya singkat.

(and_)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com