Sabtu , 17 April 2021

Muncul Mata Air Tiba-tiba, Waspadai Kemungkinan Longsor

25 Februari 2021 16:31 WIB


Ilustrasi longsor (Dok. Jaka)

SEMARANG, solotrust.com - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyatakan dari 35 daerah, terdapat 27 kabupaten di provinsi setempat yang rawan terjadi bencana tanah longsor. Pemerintah pun merekomendasikan hal penting untuk mengantisipasi bencana longsor.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko mengatakan, pihaknya telah melakukan kajian teknis terhadap tanah di sejumlah kabupaten rawan longsor.



“Daerah yang memiliki wilayah rawan gerakan tanah berjumlah 27 kabupaten,” sebut Sujarwanto Dwiatmoko di kantornya, Rabu (24/02/2021), dilansir dari Portal Resmi Provinsi Jawa Tengah, jatengprov.go.id.

Kendati demikian, imbuhnya, dari 27 daerah itu tidak seluruhnya rawan longsor, hanya daerah perbukitan atau yang memiliki lereng. Dia mencontohkan, di Kabupaten Cilacap, rawan longsor ada di Majenang dan Cimanggu. Sementara untuk Brebes ada di Salem dan Sirampog.

Ada pula Banyumas di Karanglewas, sedangkan Kebumen di Karangsembung. Daerah lainnya ada di Purbalingga, Pemalang, Pekalongan, Tegal, Banjarnegara, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, Magelang, Karanganyar, Wonogiri, Semarang, Kudus, Pati, hingga Rembang.

Sujarwanto Dwiatmoko menyebutkan, kerentanan longsor terjadi karena faktor geomorfologi meliputi sudut lereng, bentuk /tipe, relief.  Semua daerah berlereng berpotensi bergerak turun. Semakin terjal akan tambah berpotensi. Meski diakui, longsor juga bisa terjadi di daerah datar.

Ditambahkan, faktor rawan longsor lainnya adalah jenis batuan dan struktur geologi. Jenis batu lempung berkarakter mudah mengembang karena kadar air (swelling clay) sangat rentan longsor. Demikian pula kalau ada zona patahan/sesar (fault) dan lapisan batuan sejajar lereng, memiliki kerentanan longsor. Faktor lainnya, kondisi klimatologi atau curah hujan, kondisi lingkungan/tata guna lahan, serta faktor aktivitas manusia.

Pihaknya mengingatkan kabupaten atau kota untuk mewaspadai daerah rentan longsor. Apalagi dengan curah hujan tinggi.

“Di situlah kita me-warning sebagai upaya mitigasi paling awal, maka wajib dibaca peta overlay antara kerentanan gerakan tanah dengan prakiraan hujan dari BMKG,” beber dia.

Dengan peta kerentanan gerakan tanah,  beber Sujarwanto, masyarakat yang tinggal di lereng mesti memahami potensi rawan longsor. Selain itu juga diperlukan adanya pengetatan pemda, dalam memberikan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di daerah lereng.

“Yang terpenting lain adalah harus bisa mengendalikan drainase lereng. Jadi kalau bisa diatur berapa jumlah yang boleh meresap, diatur yang boleh run off (aliran permukaan). Kalau run off jangan sampai sampai mengerosi. Ya caranya kemudian membuat alur-alur, yang alurnya itu  membuat air itu direct ke badan sungai. Jadi jangan sampai membiarkan air itu meresap terlalu banyak juga,” jelas Sujarwanto.

Dia membeberkan ciri yang mudah dikenali masyarakat sebagai antisipasi bencana tanah longsor, yakni hendaknya memilih lahan bagus atau jangan berlereng. Kalau memilih berlereng hendaknya tidak ada lempung hitam.

“Tanah lempung hitam itu masalah. Kalau tanahnya padas, merah, oke, tanahnya bagus, tapi tetap kendalikan karena lokasi berlereng diantisipasi dengan penataan airnya, dan pola tanaman dan pengelolaan lahannya. Kalau milih di daerah datar, boleh, tapi hindari daerah lempung hitam,” ujarnya.

Adapun cara mengenali longsor, tutur Sujarwanto, jika saat hujan ternyata lebih banyak air mengalir ke saluran dibandingkan yang meresap, berarti telah terjadi aliran permukaan. Ciri yang nampak lainnya, bila ada retak yang bergerak, meski kecil haruslah segera ditutup agar retakan itu tidak terisi air dan tidak bertambah airnya.

“Lihat lagi, ada enggak kemunculan mata air tiba-tiba. Lho ora biasa metu air, metu air (tidak biasa keluar air, tapi keluar air). Tapi kalau sudah keluar mata air begitu, cara menghindarinya susah. Lebih baik minggir dulu. Kalau hujan sudah reda dan mata airnya sudah mati, besok dicek di atas lereng di mana ada retakan, di atas retakan atau tempat-tempat di mana ada air yang meresap ke dalam itu dipindahkan semua airnya,” terangnya.

Sujarwanto menuturkan untuk pemindahan air dari dalam tanah yang ada retakan, yakni dengan menancapkan pipa lewat samping lereng supaya air bisa keluar secara terarah.

“Tapi kalau sudah muncul mata air dan keruh, hampir pasti longsor, maka hindari dululah,” ujarnya.

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com