Senin , 30 November 2020

Belasan Penumpang Wanita Diminta Buka Baju di Bandara Doha, Qatar Minta Maaf

28 Oktober 2020 15:31 WIB


Pesawat Qatar (Foto: Reuters)

Solotrust.com - Qatar menyatakan akan menyelidiki tuduhan bahwa sejumlah wanita yang menjadi penumpang di sepuluh penerbangan telah melalui pemeriksaan invasif di Bandara Doha, Qatar.

Para wanita itu diperiksa apakah mereka baru saja melahirkan setelah adanya kasus penemuan bayi di tempat sampah Bandara Hamad pada 2 Oktober 2020 lalu. Pemerintah Australia menyebut sedikitnya ada 18 warga Australia diperiksa bersama sejumlah wanita dari negara lain.



Atas kejadian itu, pemerintah Qatar meminta maaf dan menyatakan bayi berjenis kelamin perempuan yang ditemukan, saat ini dalam keadaan aman dan mendapat perawatan medis di Doha.

Diungkapkan, bayi malang itu ditemukan di dalam kantong plastik, terkubur di bawah tumpukan sampah. Hal itu mendorong "pencarian segera untuk orang tuanya, termasuk pada penerbangan di area sekitar bayi ditemukan".

"Sementara tujuan dari pencarian yang segera diputuskan adalah untuk mencegah para pelaku kejahatan mengerikan itu melarikan diri, Negara Qatar menyesalkan segala kesusahan atau pelanggaran terhadap kebebasan pribadi setiap pelancong yang disebabkan oleh tindakan ini," bunyi pernyataan itu, dikutip dari BBC News, Rabu (28/10/2020).

Pemerintah telah mengarahkan "penyelidikan komprehensif dan transparan" atas insiden tersebut dengan bantuan negara lain. Pemerintah Australia mengatakan menerima bantuan dari Qatar dan mengkoordinasikan upaya dengan "dua atau tiga" negara lain yang warganya juga terkena dampak.

Media Australia sebelumnya mengabarkan, semua wanita dewasa yang naik pesawat dari Doha ke Sydney diperintahkan untuk turun. Mereka lalu dibawa ke ambulans di landasan dan disuruh melepas pakaian dalam mereka sebelum diperiksa.

Banyak wanita menjadi stres setelah itu dan telah menerima dukungan kesehatan dari pemerintah Australia. Pada Senin, Kementerian Luar Negeri Australia mengatakan sejumlah laporan mengindikasikan perlakuan yang diterima para wanita itu "di luar keadaan ketika para wanita dapat memberikan persetujuan tanpa paksaan".

Namun, pemerintah menolak untuk melabelinya sebagai serangan seksual sambil menunggu rincian lebih lanjut dari pejabat Qatar. Politikus oposisi di Australia telah menyebutnya sebagai pelecehan seksual.

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com