Sabtu , 24 Oktober 2020

Hujan Es di Indonesia, Dosen IPB: Awas Bergeser ke Timur

27 September 2020 12:04 WIB


Butiran es.

JAKARTA, solotrust.com- Peristiwa cuaca ekstrem hujan es yang melanda Bogor dan wilayah lain beberapa hari lalu berbeda dari hujan salju. Hujan es sangat terkait dengan kejadian equinox, yaitu fenomena ketika matahari tepat berada di equator, sehingga penerimaan energi matahari di wilayah dekat equator cukup tinggi.

“Hujan es ini kejadian yang tidak sering, tapi juga tidak jarang," kata dosen dari Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), IPB University, Rini Hidayati, melalui keteranga tertulis, Jumat (25/9/2020).



Di Indonesia, Rini menerangkan, kejadian Equinox biasanya terjadi di akhir musim kemarau atau awal musim hujan, yang ditandai dengan udara yang panas dan lembap, terutama karena banyak uap air yang dibawa oleh angin dari lautan.

Kondisi panas dan lembap tersebut menyebabkan terbentuknya awan Cumulonimbus (Cb), yaitu awan yang tumbuh vertikal dari ketinggian yang rendah (kurang dari 2000 meter) sampai dengan belasan kilometer. Awan Cb ini tumbuh vertikal hingga melampaui lapisan suhu nol derajat Celsius, berpotensi terjadi pembekuan sehingga butiran hujan menjadi padat (es).

"Saat turun belum sepenuhnya luruh sehingga sampai ke permukaan tanah masih dalam bentuk padatan," kata Rini.

Ia juga mengatakan jenis awan yang sama sering menghasilkan hujan lebat yang disertai badai dan petir. Adapun kejadian hujan es ditandainya sering terjadi, terutama di daerah-daerah yang tidak jauh dari laut. Contohnya Pulau Jawa yang hampir seluruh wilayahnya, menurut Rini, tidak jauh dari laut.

Seiring dengan berakhirnya musim kemarau dan datangnya awal musim hujan, fenomena hujan es pun disebutnya mempunyai pola pergeseran dari wilayah barat Indonesia ke arah timur. Penerima hujan es umumnya dimulai dari Sumatera bagian Barat Laut ke arah Selatan dan Timur, kemudian menyusul Jawa bagian barat dan selanjutnya ke arah timur dengan skala yang masih sulit diperhitungkan.

"Karena fenomena ini bergeser, wilayah di Timur dari Bogor misalnya, perlu bersiap-siap menerima hujan es yang disertai badai dan petir ini,” ujarnya.

Terkait dampak yang dapat ditimbulkan, Rini menjelaskan bahwa hujan es tidak memberikan dampak kerusakan yang mengkhawatirkan. Es yang turun tersebut tidak sampai merusak. Tetapi, dampak negatif justru datang dari hujan lebat, petir dan angin yang menyertainya. #teras.id

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com