Senin , 13 Juli 2020

Sejarah Hari Ini 6 Juni, Lahirnya Soekarno Putra Sang Fajar

6 Juni 2020 10:29 WIB


Presiden pertama RI Soekarno dalam sebuah kunjungan kenegaraan ke Korea Utara (Dok. Istimewa/historia.id)

Solotrust.com - Seorang pemimpin besar lahir tatkala mentari fajar tengah menyingsing pada 6 Juni 1901 dari rahim seorang ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai dan ayah Raden Soekemi Soekarno di Kota Surabaya, Jawa Timur. Jabang bayi mungil dan lucu itu pada mulanya diberi nama Koesno Sosrodihardjo, di kemudian hari diberi nama Soekarno atau kita kenal nantinya dengan nama Soekarno 'Putra Sang Fajar', seorang proklamator dan pemimpin revolusi Indonesia.

Bernama lahir Koesno, Soekarno kecil sering kali mengalami sakit-sakitan hingga umur sebelas tahun. Sang ayah pun berpikir untuk mengganti namanya agar tak sering sakit-sakitan dan dipilihlah nama Soekarno.



Seperti dilansir Wikipedia, nama Soekarno dipilih karena mempunyai alasan dan latar belakang sendiri. Nama tersebut diambil dari seorang panglima perang Bharata Yudha, Karna.

Mengingat ejaan Bahasa Jawa huruf 'a' sebagian besar dibaca menjadi 'o', ditulislah namanya menjadi Karno dan kemudian ditambah awalan 'Soe' yang berarti baik, sehingga nama Koesno berganti menjadi nama Soekarno.

Pemberian nama dari orang tua tentu mempunyai maksud tersendiri. Tak mengherankan apabila Soekarno di kemudian hari benar-benar menjadi seorang panglima atau pemimpin besar Negara Republik Indonesia.

Kehidupan Soekarno muda makin terasah saat dirinya bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS). Ia tinggal di rumah pondokan teman sang ayah, HOS Tjokoraminoto. Dari sinilah kemudian Soekarno banyak belajar tentang nilai-nilai kepemimpinan.

Pergaulan Soekarno cukup luas hingga mempertemukannya dengan beberapa teman, seperti Alimin, Musso, Darsono, Haji Agus Salim, dan Abdul Muis. Soekarno pun sempat pula bergabung dengan organisasi Budi Oetomo.

Seusai bersekolah di HBS Surabaya, Soekarno melanjutkan sekolahnya di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau sekarang lebih dikenal dengan Institut Teknologi Bandung (ITB). Di Bandung ini pula Soekarno mendirikan Algemeene Studie Club pada 1926, cikal bakal Partai Nasional Indonesia (PNI) dan didirikan pada 1927.

Pergerakan Soekarno di bidang politik tak luput dari pengawasan Belanda sehingga gerak-geriknya selalu diawasi. Beberapa kali Soekarno harus merasakan dinginnya bilik jeruji penjara. Namun, hal itu tak membuat Soekarno merasa gentar. Justru dirinya semakin berapi-api untuk melakukan pergerakan melawan para penjajah hingga pembacaan pledoi 'Indonesia Menggugat' membuat Belanda ketar-ketir karenanya.

Pergerakan Soekarno yang kemudian didukung para pemuda bangsa akhirnya mencapai puncaknya ketika membacakan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Soekarno dan Hatta waktu itu sempat diculik para pemuda yang memaksa untuk dibacakannya naskah proklamasi. Setelah melalui perdebatan dan diskusi, akhirnya disepakatilah pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta.

Semenjak saat itu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Soekarno dan Hatta kemudian diangkat menjadi presiden dan wakil presiden pertama Republik Indonesia. (dd)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com