Sabtu , 30 Mei 2020

Mengenal Sosok Moewardi yang Lekat sebagai Dokter Gembel

30 Maret 2020 22:03 WIB


Ruang isolasi di Ruang Anggrek RSUD Dr. Moewardi, Jebres, Solo, Senin (27/01/2020)

Solotrust.com - Salah satu rumah sakit yang menjadi rujukan untuk menangani pasien positif virus corona (Covid-19) di Kota Solo ialah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Moewardi. Menjadi salah satu tempat untuk menangani para pasien Covid-19 membuat RSUD Moewardi menjadi makin dikenal masyarakat luas. Nama rumah sakit ini diambil dari salah seorang pahlawan nasional, dokter Moewardi.

Mengutip Wikipedia, Moewardi merupakan seorang dokter lulusan STOVIA. Ia lahir di Pati, 30 Januari 1907 dan meninggal di Kota Solo pada 13 Oktober 1948. Dokter Moewardi setelah lulus dari STOVIA kemudian mengambil spesialisasi Telinga Hidung Tenggorokan (THT).



Moewardi pada saat di Jakarta dikenal sebagai dokter gembel sebab dirinya lebih suka bergaul dengan para gembel atau orang-orang tersisihkan hidupnya, ketimbang bergaul dengan rakyat kalangan atas. Moewardi pun tidak sungkan untuk berjalan menyusuri jalanan lumpur dan becek serta menyusuri gang-gang sempit untuk memeriksa para pasien yang notabene tidak mempunyai uang.

Pernah suatu ketika Moewardi malah digendong pasiennya yang gembel karena jalanan kotor dan penuh lumpur. Pasien itu tak ingin sepatu dan pakaian yang dikenakan Moewardi menjadi kotor dan terkena lumpur.

Dalam organisasi, peran dokter Moewardi tak bisa dipandang sebelah mata. Dokter Moewardi ikut merintis berdirinya Kepanduan Indonesia tatkala belajar di STOVIA. Tertarik dengan gerakan para pemuda, Moewardi juga masuk ke dalam Jong Java, selain giat di kepanduan.

Moewardi tercatat pula dalam sejarah ikut menghadiri Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dengan menjadi utusan dari Jong Java. Dirinya menjadi Pemimpin Umum Barisan Banteng Republik Indonesia, nama baru dari Barisan Pelopor yang merupakan organisasi pergerakan untuk mengamankan para pemimpin perjuangan.

Pada proklamasi Kemerdekaan RI, Moewardi juga turut berperan. Dalam mengamankan Soekarno dan Hatta di Rengasdengklok, Moewardi bersama Sayuti Melik bertugas membangunkan Bung Karno.

Di pagi hari menjelang proklamasi kemerdekaan, Moewardi sempat mendesak Bung Karno untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, Bung Karno dengan tenang menjawab agar menunggu Bung Hatta terlebih dahulu.

Pada saat Bung Karno menjabat sebagai presiden, Moewardi sempat ditawari posisi Menteri Pertahanan karena dirinya sempat membentuk pasukan pengamanan untuk Presiden Soekarno. Namun, jabatan itu ditolak Moewardi sebab dirinya ingin kembali kepada profesinya sebagai seorang dokter.

Dia kemudian mendirikan sekolah kedokteran di Kota Solo pada saat itu serta membentuk gerakan rakyat untuk melawan aksi PKI. Pada peristiwa di Madiun, dokter Moewardi dikabarkan menjadi salah satu tokoh yang hilang dan diduga telah dibunuh pemberontak. 

Kini, untuk menghormati jasa-jasanya, nama dokter Moewardi diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Kota Solo. (dd)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com