Senin , 30 Maret 2020

Apakah Menjadi Bintang K-pop yang Sukses Kompatibel dengan Pernikahan?

21 Januari 2020 00:11 WIB


Simbol love dengan jari yang sering dipakai fans dan idolanya dalam dunia K-pop (Dok. shutterstock)

Solotrust.com - Kabar Chen yang akan segera menikah ternyata berbuntut panjang. Meski ada pihak-pihak yang ikut berbahagia atas kabar tersebut, namun ada pula pihak-pihak yang tidak menerimanya.

Sebagaimana ditulis Han Jeongmun dan David Tizzard dalam The Korea Times (19/1/2020), dikatakan bahwa kelompok penggemar resmi EXO merilis pernyataan yang menuntut Chen meninggalkan grup itu dengan mengatakan bahwa mereka "tidak dapat lagi mendukungnya" dan bahwa "tindakan sewenang-wenangnya merusak reputasi grup".



Grup penggemar, yang dikenal sebagai EXO-L ACE Union bahkan telah memperingatkan bahwa mereka akan melakukan protes sebagai tanggapan dan mengharapkan tindakan dari pihak manajemen Chen, SM Entertainment.

Chen sebenarnya bukan artis K-Pop yang pertama yang menerima penolakan dari fans atas keputusannya untuk menikah. Sunye Wonder Girls dan Sungmin Super Junior juga harus meninggalkan grupnya sebagai efek dari pernikahannya.

Lalu, apakah menjadi bintang K-Pop yang sukses tidak kompatibel dengan pernikahan? Berdasarkan pandangan Han dan Tizzard, kekecewaan dan kemarahan yang muncul ini berkaitan dengan bagaimana industri K-pop beroperasi. Ini adalah manifestasi dari bagaimana hubungan antara artis/seniman (dalam arti paling longgar) dan penggemar terbentuk serta konsumsi artis/idola sebagai produk.

"Banyak artis K-pop yang 'dilahirkan' sebagai produk: barang dagangan belaka dari perusahaan hiburan. Mereka dirancang dan dibangun melalui 'know-how' perusahaan, termasuk penampilan estetika seseorang, genre musik, dan karakter (atau konsep)," katanya.

Dikatakan pula, alih-alih mengekspresikan diri mereka secara bebas dan alami, banyak yang hanya mengikuti perintah dan tuntutan perusahaan. Selain itu, formasi grup yang memiliki banyak anggota juga menjadikan individualitas bukanlah komponen kunci. Kuncinya adalah agar mereka menyesuaikan diri dengan kolektif grup, bahkan jika itu bertentangan dengan kepribadian atau keinginan mereka secara individu.

Lebih lanjut, menjadi idol adalah tentang mempertahankan popularitas, yang itu dicapai dengan memenangkan perhatian publik, minat, dan cinta mereka. Kehilangan popularitas sebagai seorang selebriti sama saja dengan perusahaan yang kehilangan pelanggan.

"Selebriti diharapkan membuat pilihan yang disetujui publik. Daripada 'mencintai diri sendiri', mereka dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keinginan dan kebutuhan konsumen/para penggemar," katanya.

Di akhir tulisannya, mereka mengatakan bahwa masalahnya bukan Chen maupun penggemar. Masalahnya adalah bahwa K-pop menciptakan produk yang tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan para penggemar kemudian secara alami menyuarakan kekecewaan mereka di media sosial, yang tidak bisa menyaring atau menyensor bahkan pada pendapat yang paling mengerikan sekalipun.

Lalu, bagaimana solusi terkait ini? Meski tidak langsung berkaitan dengan pernikahan artis K-Pop, jurnalis Jeff Benjamin dari Amerika pernah mengatakan pentingnya seniman/artis K-Pop diakui sebagai seniman dan bukan idol, karena istilah itu "tidak menekankan" pada sisi kesenian mereka.

"Banyak seniman di Korea disebut sebagai 'idol', tetapi saya pikir kata itu tidak menekankan adanya seni, prestasi kreatif atau kepemimpinan seniman yang dibawa dalam pekerjaan mereka," kata wartawan yang berbasis di New York itu dalam konferensi media untuk para pemenang Korea Image Awards di Samsung-dong, Seoul yang diselenggarakan oleh Corea Image Communication Institute, dikutip dari The Korea Times (14/1/2020).

Artis sendiri sepertinya juga harus lebih menekankan sisi seniman dalam diri mereka dan bukan ranah-ranah pribadi yang tidak ada hubungannya dengan seni, begitupun media dalam membuat pemberitaan. Sehingga, karya yang dihasilkan juga akan lebih merepresentasikan artis sebagai seorang artis, tidak hanya sebagai sebuah produk yang semata-mata lahir untuk menyesuaikan diri dengan keinginan para penggemar.

Namun, pada akhirnya ini bermuara pada sisi mana yang akan lebih mereka ambil. Menjadi seniman yang lebih idealis, yang mungkin tidak begitu menarik dimata penggemar, dengan tetap menjadi individu yang juga bisa melakukan hal-hal normal seperti kencan dan menikah, dengan resiko fans dan materi berkurang, atau menuruti semua harapan fans dengan konsekuensi mengorbankan materi bahkan kebahagiaan mereka sebagai individu. (Lin)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com