Senin , 18 Januari 2021

Kisahkan Orang Hilang di Era 1998, Novel dan Film Pendek “Laut Bercerita” Rilis

14 Desember 2017 11:23 WIB


Poster film “Laut Bercerita” (dok instagram Reza Rahadian @officialpilarez)

Solotrust.com –Berkisah tentang orang hilang di era 1998, novel karya Leila Chudori berjudul “Laut Bercerita” rilis Rabu (13/12/2017). Selain rilis dalam bentuk novel, novel ini juga dibuat versi film pendeknya dengan durasi 30 menit. Dibintangi oleh Reza Rahadian, Ayushita Nugraha dan Dian Sastrowardoyo, film ini disutradari oleh Pritagita Arianegara.

Terimakasih untuk Dian Sastrowardoyo, Ayushita dan Dian Sastrowardoyo yang menghidupkan kembali ingatan untuk mengupayakan mereka yang hilang diketemukan jejaknya. Novel dan film ini adalah upaya melawan lupa, merawat ingatan dan menjaga nyala api perjuangan”, demikian tulis Wahyu Susilo (@wahyususilo) selaku adik dari aktivis HAM Wiji Thukul.



Melalui akun instagramnya, Dian Sastrowardoyo mengungkapkan bagaimana acara rilis novel tersebut. Acara dimulai dengan perbincangan bersama aktivis yang selamat dan dipulangkan dari aksi penghilangan orang (aktivis) secara paksa di tahun 1998 bernama Nezar Patria serta adik kandung dari Wiji Thukul, Wahyu Susilo. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran film pendek “Laut Bercerita”.

Bagaimana kasus orang hilang ini akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai untuk bangsa Indonesia, dan juga masalah HAM lainnya yang belum terselesaikan dengan baik di negeri ini. Bagaimana kita akan bergerak maju, jika tetap ada yang belum selesai dan terpendam / ter-represi menjadi ketidaksadaran kolektif yang serba 'tidak jelas' untuk bangsa ini”, tutur Nezar Patria.

Bagaimanapun juga, kebebasan yang kita nikmati saat ini, bagaimana sekarang orang-orang bisa sebebasnya berargumentasi atau mengemukakan pendapat dengan bebas, bahkan nggak sedikit yang bertengkar pendapat dan marah-marah secara publik di platform-platform media sosial seperti di twitter, facebook, seperti yang biasa dilakukan oleh anak anak jaman now sekarang ini, itu semua kebebasan itu tidak akan pernah terjadi tanpa perjuangan para aktivis HAM dan para pejuang kebebasan yang merintis di jaman itu (1996-1998, dirintis dari awal 80an)”, tutur Wahyu Susilo.

Dian juga mengungkapkan bahwa sebagai anak angkatan 2000-an, dia masih ingat betul sedih dan seramnya masa-masa transisi di tahun 1998.

Menurut BTI Indonesia Report 2016, setidaknya ada 10.000 jiwa yang menjadi korban kejahatan HAM selama masa transisi dari tahun 1998-2003 di Indonesia. Mari jangan kita lupakan para korban kejahatan HAM di negeri ini. Seperti di film COCO, jika dilupakan, para korban itu hanya akan mati sia-sia.., seakan-akan 'mati dua kali”, pungkas Dian Sastrowardoyo.

Selain Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dian Sastrowardoyo, film pendek produksi Cineria Films dan Dian Sastrowardoyo Foundation ini juga diperankan oleh sederet nama seperti Tio Pakusadewo, Aryani Willems, Tanta Ginting, Haydar Saushz, Ade Firman Hakim, Lukman Sardi dan Adjie N.A.(Lin)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com