Kamis , 13 Agustus 2020

Penjual Soto Buta Pascaoperasi, Ini Kronologinya!

28 November 2019 18:05 WIB


Jumpa pers RS Mata Solo bersama kuasa hukum menyikapi kasus penjual soto buta, Kastur di Hotel Harris Solo, Rabu (27/11/2019)

SOLO, solotrust.com - Kastur, seorang penjual soto mengalami kebutaan pascaoperasi di RS Mata Solo, diduga akibat malpraktik dilakukan dokter RH yang menanganinya. Kastur pun akhirnya menempuh jalur hukum secara pidana dan perdata serta membuat pernyataan kepada awak media yang dirasa merugikan pihak RS Mata Solo.

Humas RS Mata Solo, Azka Shovia, membeberkan kronologi awal kasus tersebut bermula pada 30 September 2016. Saat itu, Kastur datang ke RS Mata Solo menggunakan fasilitas BPJS atas rujukan Faskes pertama, yaitu sebuah klinik dengan keluhan pandangan kedua mata kabur, hasil pemeriksaannya adalah menderita katarak, baik mata kanan maupun kiri.



"Pak Kastur kemudian menjalani operasi katarak pada mata kanan pada 9 November 2016 dan berjalan lancar tidak ada komplikasi dan hasilnya sangat bagus hampir maksimal. Kemudian 15 Desember 2016, Pak Kastur meminta kaca mata untuk mata kirinya. Setelah diperiksa mata kiri tidak dapat diberikan kaca mata saja, kemudian operasi mata kiri pada 4 Januari 2017, lalu pada 9 Maret 2017 penglihatan mata kanan menurun," bebernya.

Dokter lantas menyarankan kontrol untuk dilakukan setiap tujuh hari. Pada 7 dan 20 April 2017, hasilnya mata kanan membaik. Namu,n Kastur tidak menjalani kontrol sesuai saran dokter setiap tujuh hari sekali, justru baru datang lagi 75 hari kemudian.

Ia datang 6 Juli dalam kondisi mata kanan menurun, sedangkan mata kiri normal. Pada 20 Agustus 2017, mata kiri yang tadinya baik mengalami penurunan penglihatan dan 4 September 2017 kontrol mata kiri kabur dan ditemukan bintik kuning pada syarafnya.

Pada 11 September 2017, Kastur kontrol muncul tanda radang pada mata kiri, kemudian dokter RH mencari second opinion dengan berkonsultasi bersama dokter Amania. Setelah diperiksa dirujuk ke RS. Kariadi Semarang. Berdasarkan hasil radiologi ditemukan penyakit lain pada Kastur.

Pada 25 Januari 2018, RS Mata Solo menerima somasi dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) meminta pertanggungjawaban dan klarifikasi terhadap somasi tersebut, kemudian diklarifikasi 30 Januari 2018. Pada 13 April 2018, Kastur mencabut kuasa pada LBH Mawar Saron dan segala risiko pada kesehatan mata diterima Kastur. Pada, 21 April 2018 terjadi kesepakatan damai antara Kastur dan dokter RH, serta RS Mata Solo.

"Jadi kontrol harus dilakukan setiap tujuh hari, namun Pak Kastur justru tidak kontrol selama 75 hari tidak balik. Kami tidak tahu pola makan, gaya hidup, dan sebagainya, kami tidak monitor hingga mengakibatkan kebutaan itu," terang Azka Shovia.

Sementara itu, Kuasa Hukum Kastur, Bekti Pribadi, mengatakan kliennya diduga diagnosis katarak dan akhirnya pada 2016 dilakukan operasi mata sebelah kanan. Bukannya membaik, lama-lama penglihatannya menjadi buram hingga akhirnya mengalami kebutaan.

"Empat pekan pascaoperasi, matanya menjadi buta. Pak Kastur sempat dirujuk ke RSUP Dr Kariadi Semarang, dokter bilang ibarat kaca mobil kornea mata Pak Kastur sudah penuh goresan dan dalam. Kemudian dirujuk ke RSCM Jakarta dengan biaya Rp30 juta per kornea dan tidak ditanggung BPJS Kesehatan," beber dia, Selasa (26/11/2019).  

Terkait kebutaannya ini, Kastur mengaku tak bisa lagi berjualan soto. Alhasil, pendapatannya menurun drastis.

"Sekarang anak sama emaknya yang jualan, sekarang pendapatannya jauh, ndak ada separuhnya,” ucap dia. (adr)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com