Jumat , 15 November 2019

ISI Surakarta Bertekad Jadi Pusat Studi Konservasi Seni Murni

4 November 2019 21:03 WIB


Sosialisasi dan Workshop Konservasi Restorasi Lukisan di Gedung Serbaguna Balai Ekspresi Raden Sungging Prabangkara, FSRD ISI Surakarta, Mojosongo, Jebres, Solo, Senin (04/11/2019).

Solotrust.com - Musik atau lagu memang salah satu bentuk ungkapan ekpresi dari dalam diri. Dengan mendengarkan lagu, kita bisa menunjukkan luapan emosi atau perasaan yang sedang dialami atau sudah dialami.

Terkadang rasa sedih teramat dalam bisa tersalurkan lewat mendengarkan musik atau menyanyikan lagu. Pun demikian apabila kita mendengarkan lagu atau musik ceria. Otomatis tubuh kita akan merespons terhadap impuls yang diterima.



Namun, pernahkah kamu mengalami suatu fenomena di mana sebuah musik yang sudah tidak didengar lagi, namun terus-menerus terngiang dalam diri atau dalam pikiran? Apabila pernah atau sering terjadi hal demikian, berarti kamu terkena fenomena Earworm

Fenomena Earworm bisa disebut secara ilmiah sebagai cacing telinga. Fenomena ini terjadi ketika ada sebuah lagu yang melekat dalam diri manusia dan berulang-ulang seakan tergiang dan terdengar secara terus-menerus, padahal lagu itu sudah tidak kita dengar.

Menurut peneliti Victoria JWilliamson, hampir 91 persen manusia mengalami earworm sekali setiap minggunya. Hal ini terjadi karena adanya korteks motorik otak. Jadi, otak tanpa sadar menghafal lagu sehingga kita terngiang terus-menerus terhadap lagu itu.

Keadaan ini terjadi biasanya karena kita sering memutar lagu sama secara terus-menerus dan juga dipicu suatu pengalaman pribadi, kebetulan kejadiannya sama dengan lagu yang sedang terngiang di dalam pikiran. Fenomena ini tidaklah berbahaya bagi diri kita. Namun, terkadang kita secara mendadak akan bersenandung lagu tersebut tanpa adanya rangsangan dari lagu yang sedang diputar. 

Akademisi bergelar PhD dari University of Cincinnati James J Kellaris telah melakukan riset terhadap 559 pelajar di Amerika. Ia menyatakan fenomena earworm disebabkan 15 persen dari jingle iklan dan 11 persen berasal dari lagu instrumental.

Hal tersebut sesuai dengan faktor yang menyebabkan earworm, yaitu lagu dengan lirik berulang, ritme tidak biasa atau nada catchy. Jadi, apabila ada sebuah jingle iklan unik dan nadanya tidak biasa, otak akan menangkap itu sehingga timbullah fenomena yang dinamakan earworm. (dd/berbagai sumber)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com