Jumat , 15 November 2019

Andreas Guntoro, Sosok di Balik E-Tilang di Indonesia

4 November 2019 11:57 WIB


Andreas Guntoro saat berfoto di ruang Redaksi Solotrut.com, Sabtu (26/10/2019).

SOLO, solotrust.com – Baru-baru ini kabar mengenai E-Tilang menjadi viral. Meski itu baru berlaku di DKI Jakarta, tapi E-Tilang akan segera berlaku di kota-kota di Indonesia. Selain institusi yang bersinggungan langsung dengan jalan raya, kendaraan dan pengemudinya -seperti Kepolisian, Dinas Perhubungan dan Jasa Marga – ternyata ada sosok belakang layar si pembuat sistem E-Tilang. Dia adalah Andreas Guntoro, warga Sragen.

Andreas Guntoro yang biasa dipanggil Andre, pria yang tahun ini menginjak usia ke 35 ini merupakan sosok vital dibalik Integrated System Closed Circuit Television (CCTV) yang digunakan untuk data traffic PT. Jasa Marga dan Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) Korlantas Kepolisian Republik Indonesia (Polri).



Lahir dari keluarga yang sarat religi, Gusti Allah memberikan kecerdasan kepadanya. Sudah bisa baca tulis di usia 4 tahun, selalu menjadi juara kelas di SD Negeri 3 Jati Masaran, SMP Negeri 1 Sidoharjo Sragen dan mendapat predikat 3 besar murid terpintar di Kabupaten Sragen.  Pelajaran Bahasa Inggris yang kala itu masuk menjadi mata pelajaran baru justru telah mampu dikuasai Andre karena sejak sekolah dasar.

Selulus dari Manajemen Politeknik PPKP, Andre  berkuliah di The Open University United Kingdom dengan jurusan Data Komunikasi, di Belanda. Di negeri kincir angin ini, Andre mulai memperdalam pengetahuan ilmu jaringan komputer/networking -nya.

“Saya di Belanda tahun 2005, di sana sangat dimanjakan dengan internet, sinyal belum ada 3G, masih GPRS, EDGE saja sudah bagus dan lebih murah di Belanda waktu itu 10 Mb saja Rp 600 ribu. Kehidupan saya dibantu seorang pastor di Belanda, saya juga tinggal di rumahnya. Saya melayani sebagai operator easy worship, warta gereja, pemain musik di Amsterdam dan Den Haag. Dari pelayanan itulah saya bisa membayar kuliah sebesar 1500 Euro,” beber Andre saat bekunjung di kantor Terang Abadi Media Grup, Sabtu (26/10/2019).

Menurutnya, pengalaman adalah guru terbesar di sepanjang perjalanan karier dan hidupnya. Meski membawa uang yang tak seberapa dari Belanda, namun Andre bersyukur karena bisa menimba ilmu dan pengalaman di luar negeri.

“Saat di Belanda komputer pada dibuang misal sekarang core i3, versi sebelumnya dilepas begitu saja bukan dijual, tapi ditata di depan rumah, karena kalau dibuang asal kena denda, jadi ditata dan bebas dipungut, saya pilih pungut saya kirim ke rumah bahkan ke teman-teman saya juga, ada RAM 4 GB, ada VGA, jadi kalau ingin tahu kondisi kamar saya seperti kamar hacker, banyak komputer bekas, saya otak atik untuk belajar, jadi saya di Belanda hampir 4 tahun,” tambahnya lagi.

Pulang ke Indonesia tahun 2008, Andre menikah, dan bekerja di perusahaan luar negeri berbasis jaringan di Indonesia. Uniknya pekerjaan ini bisa dikerjakan dari rumah dengan jam kerja USA dan bayaran per jam.

Kompetensi bidang networking  yang tinggi ditambah dengan kerendahan hati yang dimilikinya, membawa Andre kepada kesuksesan demi kesuksesan. Banyak prestasi dan penghargaan diterimanya karena dedikasi dan kemampuannya dalam bidang jaringan komputer diraihnya. Hingga akhirnya pada tahun 2013, Andreas Guntoro membuka jasa IT Consultant sendiri.

“Taburan baik menghasilkan tuaian baik”, begitu kata pepatah yang menjadi kenyataan bagi Andre. Beberapa saat setelah dia membuka jasa IT Consultannya, tiba-tiba CCTV mulai marak di Indonesia. Dan ini membawa berkah bagi Andre dengan IT Consultantnya. Dia mulai dilirik banyak perusahaan. Salah satunya Joglosemar CCTV yang memberi kepercayaan kepadanya untuk menangani networking system  dan dipercayakan membuka cabang Joglosemar CCTV di Sragen.

Pada tahun 2018, Andre hijrah ke Jakarta dan direkrut sebagai engineer bidang Mechanical Electrical Plumbing (MEP) yang banyak menangani pembangunan Gedung-gedung bertingkat di DKI Jakarta dan Indonesia.

Kiprahnya di Ibukota, membawa keberkahan tersendiri bagi dirinya. Bersama dengan teman-temannya, mereka  membentuk suatu wadah sistem integrator yang bergerak dalam system solution bernama Mitra Security Asia (MSA). Dalam perkembangannya sampai saat ini, PT Mitra Security Asia/MSA, sudah banyak menangani berbagai macam proyek Surveillance System di Indonesia. PT Mitra Security Asia/MSA, juga dilirik oleh perusahaan-perusahaan CCTV dunia seperti Hikvision, Huawei, Axis dan lain-lain. DI MSA ini, success story jilid II dari Andreas Guntoro kembali bergulir.

Andre dipercaya untuk menangani proyek besar PT. Jasa Marga melalui proyek E-TLE sejak Oktober 2018 lalu. Di situ Andre berhasil memasang dan membuat sistem untuk 12 kamera CCTV yang digunakan untuk memantau pergerakan arus mudik dan balik di sejumlah ruas tol Trans Jawa.

Dari situlah program E-TLE Andre dikenal dan mulai dilirik institusi lain. Salah satunya oleh Polda Metro Jaya.

Beberapa waktu kedepan, Polda Metro Jaya mau menginformasikan teknologi smart kamera, ternyata serupa dengan yang telah dipasang oleh PT. Jasa Marga dari keberhasilan garapan Andre dengan waktu tergolong singkat. Pihak Polda kemudian bertanya dengan pihak PT. Jasa Marga, dari situ terbukalah jalan kerja sama Andre dengan Kepolisian ditarik untuk mengerjakan CCTV E-TLE.

“Sebenarnya smart kamera tidak hanya berkutat di traffic system, tapi juga pendeteksian wajah, sudah saya terapkan di kantor saya sekarang (MSA). Bisa dibilang kami (MSA -penulis)  sudah dikenal sebagai system integrator terbaik di Indonesia yang sudah dikenal banyak orang, nasional maupun internasional,” beber pria yang menangani system integrator dan system konsultan yang telah banyak mengerjakan proyek besar dengan MSA itu.

 

Bagaimana perkembangan Sistem E-TLE di Indonesia?

Andre menjelaskan bahwa penerapan sistem tilang elektronik haruslah bekerja secara fully automatic, unsur yang memenuhi adalah front end media, transmission hingga back end, sampai mengeluarkan  hasil tangkapan kamera sebagai bukti tilang bagi pelanggar ketentuan berkendaraan.

Yang Andre kembangkan saat ini adalah Artificial Intelligence yang mampu membuat video analyze dari front end hingga back end untuk mengukur pelanggaran overspeed (batas kecepatan) maksimal 250 km/jam sehingga tidak hanya mampu menangkap item plat nomor, seat belt, klasifikasi kendaraan, tapi juga mampu menganalisis secara otomatis muncul sejumlah data salah satunya laju kecepatan kendaraan dinilai melanggar atau tidak melalui tangkapan layar.

Sistem smart CCTV yang diterapkan Andre adalah pada pengambilan bukti yang valid dan akurat, karena fungsi CCTV harus mampu menangkap kejadian atau suatu peristiwa. Dari hasil observasinya, banyak daerah di Indonesia mulai menerapkan E-TLE, namun belum maksimal karena masih belum fully automatic, sehingga banyak terjadi human error disamping kecepatan proses kerja dan ketepatan hasil.

“Di Jakarta cuma di ruas Jalan Sudirman – Thamrin, yang kemudian diperluas ke tol dalam kota kemudian Tol Lingkar Luar dan jalan Tol Lingkar Dalam Jakarta, masuk integrasi kantor Jasa Marga Cililitan, di Jakarta ini sudah antar instansi. Saya mengerjakan mulai dari konsep sampai diterima tender dan dikerjakan, addendum menambah lagi, yang saya tahu data itu sangat vital akurasi dipertanyakan tidak bisa asal-asalan pasang. Kamera pengawas bertugas mengawasi bukan kita mengawasi kamera yang dipasang, kalau orang solutif kamera ini pengawas, kita terima hasilnya, E-TLE kameranya yang bekerja di foto, melaporkan kita tinggal verifikasi,” tandas Andre.

Sedangkan operasi batas kecepatan di jalan tol secara insidental sudah kerap dilakukan petugas gabungan Jasa Marga,  petugas patroli Polda setempat dan Dinas Perhubungan setempat melalui teknologi smart CCTV bagi pengendara yang melampaui batas kecepatan maksimal melintas di jalan tol

Menurutnya, hal ini penting karena angka kecelakaan di jalan tol 80 persen didominasi karena faktor overspeed hingga menyebabkan kefatalan dan korban jiwa. Saat ini sudah ada MoU antara Jasa Marga dengan Korlantas ditengahi Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT). Artificial Intelligent yang dikembangkan Andre dan timnya dapat mendeteksi tingkat kemacetan lalu lintas secara signifikan melalui sampling yang telah tersystem sedemikian rupa.

Andreas Guntoro adalah sosok penting di balik kesuksesan E-TLE (Electronic Traffic Low Enforcement) di Indonesia. Lewat tangan dinginnya dan buah pikirannya, system itu terus dia dikembangkan untuk menjadi sebuah system yang semakin bisa diandalkan oleh Indonesia. Satu cita-citanya yang menjadi motivasi seorang Andreas Guntoro: “Indonesia juga bisa dikenal dan diakui dalam bidang Traffic Management System dunia”. Amin, mas Andre. (adr)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com