Jumat , 28 Februari 2020

Ari-Ari Dilihat Dari Perspektif Budaya Jawa

4 Oktober 2019 20:26 WIB


Ari-ari yang dikubur.

Solotrust.com- Ari-Ari atau plasenta bagi orang Jawa bukan sekedar sebagai pengiring kelahiran seorang bayi, tetapi juga mempunyai hubungan khusus si bayi hingga ia tumbuh besar kemudian meninggal. Orang Jawa sering menyebut ari – ari atau plasenta juga sebagai saudara kembar si bayi. Maka setelah keluar sesaat bersama jabang bayi, ari – ari tidak langsung dikubur begitu saja tetapi juga diadakan sebuah upacara sebelum mengubur ari – ari.

Biasanya ari-ari sebelum dikuburkan akan dibersihkan terlebih dahulu kemudian setelah bersih akan dibungkus kain mori putih lalu diberikan mantra oleh si ibu jabang bayi, kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kendhil kecil yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari untuk tempat ari-ari si jabang bayi.



Setelah itu, ari – ari dikubur atau dalam istilah Jawa nandhur ari-ari. Penggunaan kata tandhur ini juga memiliki makna filosofis sebagai perwujudan harapan. Harapan supaya kelak ke depannya menghasilkan buah kebaikan untuk si bayi. Selain itu kata nandhur juga bisa diartikan supaya si bayi ke depannya bisa hidup dan berkembang lebih baik lagi.

Selain itu bersama dengan ari-ari jabang bayi yang dikubur disertakan pula sesaji atau sajen yang terdiri dari kembang boreh, garam, bawang merah, bawang putih, gula, sedikit kelapa, pensil dan buku. Hal ini dilakukan supaya bau amis yang keluar dari ari – ari tidak membuat hewan liar datang untuk menggali dan mengambilnya. Sedangkan pensil dan buku diartikan supaya sang bayi bisa tumbuh pintar dan cerdas.

Tempat untuk mengubur ari-ari biasanya di sekitar pekarangan rumah. Biasanya letak penguburannya tidak di belakang rumah, namun di samping atau di halaman depan rumah. Orang yang menguburkan ari – ari bisa anggota keluarga siapa saja, namun ada baiknya mandi terlebih dahulu supaya bersih dan suci.

Pada saat penguburan ari – ari juga disertai dengan doa. Biasanya doa yang sering diucapkan ialah “Kowe iki anakku, yo kuwi sedulure tuwo jabang bayine, reksanen, emongen sadulurmu enom / jabang bayine” Yang kurang lebih arti dan maknanya supaya saudara tua dari sang jabang bayi yang berupa ari – ari ini bisa selalu beriringan dan mendampingi saudara muda, yakni si jabang bayi.

Setelah dikubur lalu kemudian diberikan pagar serta lampu kecil yang maksudnya sebagai penerang hidup sang bayi dan dijauhkan dari gangguan mahluk halus. Ari – ari juga tidak boleh dipendam terlalu dalam. Karena ari – ari berkaitan dengan jabang bayi. Bila dipendam terlalu dalam, biasanya bayi akan sesak nafas atau susah untuk mulai belajar bicara.

Ari – ari merupakan saudara spiritual bagi sang bayi yang baru lahir. Dia merupakan salah satu bagian dari sedulur papat lima pancer. Dengan beberapa ritual khusus bisa juga mengajak bertemu kakang kawah adi ari – ari. Konon mereka selalu ada mendampingi sampai si jabang bayi mati.

Sebelum datangnya kematian pun, bagi orang Jawa untuk meruwat para sedulur tersebut supaya tidak menghalang – halangi.

Kepercayaan ini menjadi bukti bahwa orang Jawa memandang dunianya penuh dengan filosofis. Dan hal ini merupakan salah satu sarana bagi Orang Jawa untuk menemukan kesejatian dirinya dalam sebuah kehidupan. (dd/berbagai sumber)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com