Rabu , 20 November 2019

Banyak Acara Peringati Berdirinya Keraton Kartasura

17 September 2019 15:01 WIB


Mng. Surya Hastono Hadi Projonagoro (kiri) saat acara diskusi dan blusukan menelusuri jejak sejarah keraton kartasura.


Solotrust.com- Tepat kurang lebih sekitar 339 tahun yang lalu pada bulan September Keraton Kartasura berdiri. Untuk memperingati berdirinya Keraton Kartasura akan ada beberapa acara yang dimulai pada Sabtu (14/9/2019) hingga puncaknya pada Rabu (25/9/2019).



“Akan ada banyak acara. Dimulai dengan wilujengan, lalu juga ada bazar dan kemudian ada kirab pameran keris dan nantinya akan ditutup wayang kulit semalam suntuk pada hari terakhir.” Ujar juru kunci bekas Keraton Kartasura Mng. Surya Hastono Hadi Projonagara.

“Silahkan datang dan menyaksikan acaranya.” lanjutnya kemudian.

Keraton Kartasura sendiri berdiri pada bulan September 1680 pada masa pemerintahan raja Amangkurat II putra dari Amangkurat I. Berdirinya Keraton Kartasura tak lepas dari pemberontakan yang dilakukan oleh Trunojoyo kepada Keraton terdahulu yang terletak di Plered.

Pemberontakan Trunojoyo adalah buah dari ketidakpuasan atas pemerintahan raja Amangkurat I yang memerintah Kasultanan Mataram. Waktu itu Pangeran Adipati Anom merasa tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya, namun tidak berani mengungkapkan secara terang – terangan. Dia lalu dikenalkan oleh Raden Kajoran alias Panembahan Rama yang seorang ulama dan masih kerabat dari keraton kepada menantunya bernama Trunojoyo sebagai alat pemberontakan Adipati Anom.

Trunojoyo yang menyetujui untuk melakukan pemberontakan kepada Amangkurat I, akhirnya mendapatkan bala bantuan dari Karaeng Galengsong seorang pemimpin kelompok pelarian dari Makasar bekas pendukung Sultan Hassanuddin yang telah dikalahkan oleh VOC. Kelompok Karaeng Galengsong bersedia bergabung karena mengetahui Mataram saat itu sedang bekerjasama dengan VOC.  Selain dari Makasar, Trunojoyo juga mendapatkan tambahan pasukan dari Surabaya yang dipimpin oleh Panembahan Giri.

Gabungan beberapa pasukan Trunojoyo berhasil membuat kocar kacir pasukan Mataram yang dipimpin Amangkurat I. Kekalahan demi kekalahan didapatkan oleh pasukan Amangkurat I. Melihat kemenangan demi kemenangan yang diraih membuat Trunojoyo berselisih paham dengan Adipati Anom. Trunojoyo disebut tidak mau menyerahkan kedudukannya.

Adipati Anom yang merasa marah dengan Trunojoyo akhirnya berputar arah membantu ayahnya kemudian menggempur pasukan Trunojoyo. Namun usaha Adipati Anom pun sia – sia. Kekuatan Trunojoyo dan pasukannya tidak dapat ditandingi. Mataram dapat dikuasai oleh Trunojoyo yang bergelar Pangeran Maduretno.

Amangkurat I bersama Adipati Anom kemudian melarikan diri. Tapi sesampainya di Tegalarum, Amangkurat I wafat. Adipati Anom kemudian naik tahta menjadi Amangkurat II. Penunjukan ini sebenarnya sudah dilakukan waktu Amangkurat I sakit.

Amangkurat II lalu mendapatkan bantuan Kompeni dan membalas menggempur kerajaan yang dipimpin Pangeran Maduretno. Dengan banyaknya bantuan yang didapat oleh Amangkurat II, kali ini Pangeran Maduretno berhasil ditaklukan lalu kemudian dihukum mati.

Setelah itu, Dalam sebuah pertemuan dengan Jacoob Cooper di Semarang, Amangkurat II mengutarakan jika dia tidak mau untuk kembali ke Plered karena keraton di Plered pernah di duduki oleh musuh sehingga hilang kewibawaannya.

“Ada tiga daerah sebenarnya yang ditawarkan untuk mendirikan keraton baru yakni Loh Gender (Semarang), Tingkir(Salatiga) dan alas Wanakarta.” ujar juru kunci bekas Keraton Kartasura.

Amangkurat II lalu ingat akan leluhurnya Pangeran Pekik yang pernah bermimpi bahwa cucunya akan menjadi raja di sebelah selatan. Maka dipilihlah alas Wanakarta dan kerajannya dipilih nama Keraton Kartasuro.

“ Karta itu nama hutannya Suro itu karena saat berdirinya pas di waktu bulan Suro.” ujar juru kunci tersebut. (dd)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com