Rabu , 18 September 2019

Kisah Perjalanan Hidup Sang Jenius Habibie

12 September 2019 10:10 WIB


BJ Habibie.


Solotrust.com- BJ. Habibie merupakan salah satu putera terbaik bangsa dengan pemikiran jenius. Beliau mempunyai julukan sebagai Bapak Teknologi Indonesia dan juga dikenal sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia. Lika liku perjalanan hidupnya sangat menarik untuk diikuti, bahkan kisah cintanya bersama sang isteri Ainun Habibie telah diangkat ke layar lebar oleh beberapa sutradara tanah air dan mendapatkan respons yang sangat positif dari rakyat Indonesia. Namun, selepas Mahgrib kemarin Rabu (11/9/2019) sang jenius berpulang menuju keabadian menyusul sang cinta abadinya Ainun Habibie yang telah mendahului.



Berikut adalah kisah perjalanan BJ. Habibie yang dirangkum dari berbagai sumber.

Habibie terlahir dengan nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan nama BJ. Habibie di kota Pare-Pare Sulawesi Selatan 25 Juni 1936 dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan juga RA. Tuti Marini Puspowardoyo. Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara.

Masa kecill Habibie dihabiskan di kota kelahirannya Pare-Pare Sulawesi Selatan. Sikap keras berpegang tehuh pada prinsip sudah tertanam dalam diri Habibie sejak kecil. Habibie kecil harus kehilangan bapaknya pada tanggal 3 Seprtember 1950 saat Salat Isya, karena penyakit jantung. Karena kegemarannya dalam membaca, Habibie tumbuh menjadi seorang pribadi yang cerdas. Namun, setelah kematian bapaknya, ibunya lantas menjual rumah yang mereka tempati serta kendaraan yang dimiliki untuk biaya hidup Habibie beserta saudara-saudaranya. Keluarga Habibie pun pindah ke Kota Bandung.

Dari kecil, Habibie sudah menyukai mesin. Menurut Titi Habibie, jika ditanya “kalau besar ingin menjadi apa?” maka Habibie kecil akan menjawab, “menjadi insinyur”.

Kecerdasan Habibie sudah tampak sejak remaja. Pendidikan menengahnya ditempuh di HBS (horgere burger school) tahun 1950. Di tengah jalan dia lalu pindah ke Bandung dan sekolah di Gouvernements Midllebare Schools hingga tahun 1951, lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas dari 1951-1954. Selepas lulus SMA, Habibie kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Tehnik Institute Tehnologi Bandung (ITB), namun tidak sampai selesai sebab dia mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk di sekolahkan di Jerman.

Saat itu, pada pemerintahan Soekarno banyak anak – anak cerdas dan pintar yang mendapatkan beasiswa langsung dari pemerintah pusat untuk bisa sekolah di negara – negara maju. Dalam biografi BJ Habibie, diketahui Habibie kemudian memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH).

Kehidupannya di Jerman tidaklah mudah. Dia harus bekerja juga untuk bisa bertahan hidup. Apabila musim liburan tiba, mungkin teman-temannya bisa menghabiskan waktu dengan liburan. Namun, bagi dia liburan adalah waktu yang harus digunakan untuk lebih rajin bekerja, agar bisa untuk membeli buku. Dia pun harus menghemat pengeluarannya selama berada di Jerman.

Pada tanggal 12 Mei 1962, Habibie, setelah mengambil cuti dan pulang dari Jerman dia kemudian melangsungkan pernikahannya dengan teman masa sekolahnya dulu yakni Ainun Habibie. Perempuan inilah yang menemani perjuangan jatuh bangun Habibie di negara Jerman dengan hidup pas-pasan hingga berhasil mewujudkan cita – citanya membuat pesawat terbang untuk Indonesia.

BJ. Habibie tercatat merampungkan studynya dari S-1 hingga S-3 di Jerman. Kehidupan yang penuh liku sebagai pasangan baru bersama Ainun dilaluinya di Jerman. Bahkan Ainun harus rela meninggalkan kariernya sebagai dokter untuk menemani Rudy (panggilan Habibie). Tidaklah mudah kehidupan sepasang suami isteri ini. Ainun bahkan harus mencuci bajunya di tempat pencucian umum. Dari pernikahannya dengan Ainun, Habibie mendapatkan dua orang putera yakni Ilham Akbar Habibie dan Tareq Kemal Habibie.

Perjuangan yang keras dan semangat pantang menyerah yang dilakukan Habibie selama di Jerman akhirnya mendapatkan hasilnya juga. Habibie mendapatkan banyak penghargaan dari beberapa negara di dunia. Salah satunya penghargaan tersebut ialah Edward Warner Award dan Award van Korman yang setara dengan Hadiah Nobel.

Kiprahnya di luar negeri yang pernah bekerja di beberapa perusahaan pabrik pembuat kapal terbang menarik perhatian pemerintahan saat itu. Presiden Soeharto kemudian memanggil pulang Habibie. Kesempatan bertemu dengan Presiden Soeharto tidak disia-siakan. Habibie kemudian mempresentasikan pesawat N-250 Gatotkaca. Saat itu Habibie juga ditunjuk menjabat sebagai direktur IPTN oleh Soeharto. Soeharto juga mengangkat dia sebagai Menristek.

Namun, saat Habibie memimpin IPTN dan pesawat yang telah lama dia idam-idamkan selesai pengerjannya, badai krisis moneter melanda Indonesia. IPTN sebagai perusahaan industri pesawat terbang pun akhirnya ditutup. Banyak tenaga ahli di bawah naungan Habibie yang akhirnya pergi memilih bekerja di luar negeri.

Selang beberapa saat setelah IPTN ditutup, Habibie diangkat menjadi Wakil Presiden mendampingi Soeharto. Baru beberapa bulan menjabat sebagai Wakil Presiden, pergolakan politik dalam negeri memanas hingga akhirnya membuat Presiden Soeharto lengser dari jabatannya dan menyerahkan jabatannya kepada Habibie sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia.

Habibie menjabat sebagai Presiden selama kurang lebih satu setengah tahun. Dalam perjalanannya sebagai Presiden, Habibie membuat banyak keputusan penting. Salah satunya adalah melahirkan UU Otonomi daerah. Ia juga membebaskan rakyat dalam beraspirasi sehingga membuat banyak partai politik baru bermunculan. Habibie juga saat itu berhasil menekan nilai mata uang rupiah terhadap dollar hingga di bawah 10 ribu padahal waktu itu nilainya pernah mencapai 15 ribu per dollar, ia juga melikuidasi beberapa bank yang bermasalah.

Namun pidato pertanggungjawaban Habibie di tolak MPR. Karena di bawah kepemimpinannya terjadi Referendum untuk Propinsi Timor – Timur  yang akhirnya keluar sebagai negara merdeka lepas dari NKRI. BJ Habibie pun digantikan oleh Presiden berikutnya K.H. Abdurrachman Wahid atau dikenal sebagai Gus Dur.

Setelah tidak menjabat sebagai Presiden, kesibukan Habibie lebih banyak bersama isteri dan keluarga tercintanya. Hingga pada tanggal 22 Mei 2010, isteri tercintanya meninggal karena sakit di Rumah Sakit Kota Munich Jerman.

Karena rasa cinta dan setianya kepada isterinya, Habibie hampir setiap saat berkunjung ke makam isteri tercintanya untuk melepas rindu dan membacakan doa.

Dan kini, kerinduan untuk bertemu dengan sosok isteri yang dicintainya seakan terobati. Tepat pukul 18.05 selepas Mahgrib pada hari Rabu (11/9/2019) Habibie menyusul isteri tercintanya dan pulang menuju alam keabadian…Selamat jalan Eyang Habibie… (dd)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com