Rabu , 16 Oktober 2019

5 Masalah Kesehatan yang Muncul Saat Kemarau, Nomor 2 Jangan Jangan Disepelekan

8 Juli 2019 00:21 WIB


Ilustrasi.

JAKARTA -  Penyakit apa yang biasa menyerang saat kemarau? Simak ulasan singkatnya ya.

1. Batuk



Seperti dilansir Healthline, batuk merupakan reaksi umum membersihkan lendir tenggorokan atau iritan yang masuk, salah satunya melalui udara. Spesialis anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. Wahyuni Indawati mengatakan perubahan cuaca, debu, bulu binatang, kapuk dan makanan jadi pencetus batuk.

Pada kasus yang lebih serius, batuk bisa disebabkan infeksi virus influenza pada saluran pernapasan, asma, dan penyakit refluks gastroesofagus, yang menyebabkan batuk menetap. Kondisi ini disebut akut jika berlangsung kurang dari tiga pekan dan berubah menjadi kronis bila terjadi lebih dari delapan minggu, bahkan dicurigai tanda kanker paru.

Perkuat daya tahan tubuh dan sebaiknya hindari faktor pencetus agar tak terkena batuk. Jika sudah terlanjur batuk, jaga tubuh tetap terhidrasi, tinggikan posisi bantal saat tidur, berkumur menggunakan air hangat plus garam secara rutin untuk meredakan tenggorokan dan tambahkan madu atau jahe pada teh hangat untuk melancarkan saluran napas.

 

2. Influenza

Penyakit yang disebabkan virus influenza ini bisa menular melalui udara dan bisa menyerang kapan saja, termasuk saat kemarau. Memperkuat daya tahan tubuh, menerapkan perilaku hidup bersih sehat, seperti mencuci tangan dan vaksinasi, menjadi cara mencegah terkena influenza.

Influenza tak bisa dianggap sepele karena bisa memicu komplikasi, seperti pneumonia dan serangan jantung.

 

3. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)

Paparan debu yang cenderung meningkat saat kemarau bisa menyebabkan saluran pernapasan mengalami penyempitan dan produksi lendir meningkat serta peradangan, kata dokter spesialis THT dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta, dr. Herlina Ida Haryaningsih. Jika sudah begini, penderita akan sulit bernapas dan terjadilah infeksi saluran pernapasan, salah satunya ISPA.

Sejumlah gejala ISPA yang harus diwaspadai antara lain hidung tersumbat, paru-paru terasa terhambat, batuk, tenggorokan sakit, kerap merasa lelah, dan tubuh sakit. ISPA rentan menyerang mereka yang daya tahan tubuhnya rendah.

Konsumsi buah dan sayur bisa menjadi upaya memperkuat sistem imun. Pencegahan ISPA juga bisa melalui penggunaan masker untuk mengurangi dampak terisapnya debu dan menerapkan pola hidup bersih sehat (PHBS), seperti mencuci tangan, makan teratur, dan mencuci makanan.

 

4. Dehidrasi

Ahli biologi dari Universitas George Washington di Washington DC, Amerika Serikat, Randall Packer, seperti dilansir LiveScience mengatakan, cuaca menjadi salah satu yang menentukan berapa lama seseorang bertahan tanpa air. Menurutnya, di lingkungan yang sangat panas orang dewasa bisa kehilangan keringat 1-3,2 liter dalam satu jam dan berisiko mengalami dehidrasi.

Gejala dehidrasi antara lain kelelahan, kram kaki atau perut, sembelit, mulut kering, sakit kepala, dan bingung. Ahli kesehatan di Indonesia kebanyakan menyarankan setidaknya minum delapan gelas air putih untuk mencegah dehidrasi. Namun, ilmuwan nutrisi Dr. Matthew Lantz Blaylock menyarankan orang-orang mengonsumsi air hingga 12 gelas per hari karena iklim tropis di tanah air.

Selain itu, kurangi minuman yang mengandung banyak gula karena bisa menyebabkan seseorang kehilangan lebih banyak cairan tubuh. Lalu, sebisa mungkin hindari konsumsi makanan panas dan pedas karena bisa menambah panas ke tubuh.

 

5. Diare

Diare bisa menjadi pertanda seseorang mengalami heat stroke dan kepanasan parah (heat exhaustion) akibat cuaca panas. Agar kondisi ini tak terjadi, gunakan tabir surya, jaga tubuh tetap terhidrasi, hindari minuman mengandung kafein karena bisa membuat kehilangan lebih banyak cairan, seperti dilansir laman WebMD.

Tetapi jika mengalaminya, carilah tempat yang lebih sejuk dan berdiam di sana beberapa waktu. Lalu, minum banyak air untuk mengganti kehilangan garam tubuh. Untuk sementara waktu, hindari minuman mengandung kafein karena bisa memperburuk keadaan.

Di sisi lain, ahli kesehatan mengungkapkan diare saat kemarau juga bisa terjadi karena debu mengandung bakteri, virus menyebar dan masuk pada sumber maupun wadah penampungan air, juga makanan. Sebaiknya tutup penampungan air dan makanan untuk mengurangi risiko terkena diare. #teras.id

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com