Senin , 26 Agustus 2019

Empat Orang Utan Dilepasliarkan ke Habitat Aslinya di Hutan Kalimantan

1 Juli 2019 05:35 WIB


Petak, salah satu dari empat orang utan yang dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, (27/6) (Dok. Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo (Yayasan BOS) via orangutan.or.id).

Solotrust.com - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur kembali bekerja sama dengan Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo (Yayasan BOS) untuk melepasliarkan orang utan ke habitat aslinya.

Sebagaimana dikabarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jumat (28/6/2019), ada empat orang utan yang dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, (27/6). Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Reintroduksi Orang utan Kalimantan Timur di Samboja Lestari ke habitat alaminya.



Empat individu orang utan yang dilepasliarkan kali ini telah lama berada di pusat rehabilitasi. Mereka terdiri dari tiga jantan yaitu Komo (21 tahun), Gino (14), dan Zakir (15), ditambah satu betina bernama Petak (22). Keempatnya diberangkatkan dari Samboja Lestari, dan menempuh perjalanan selama sekitar 20 jam sampai ke Hutan Kehje Sewen di bagian Utara. 

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Sunandar Trigunajasa menjelaskan bahwa kerja sama dengan banyak pemangku kepentingan seperti Yayasan BOS telah berhasil menyelamatkan dan mempertahankan adanya populasi orang utan liar di Kalimantan Timur.

"Sampai hari ini, kita telah melepasliarkan 100 orang utan ke Hutan Kehje Sewen yang terletak di Kutai Timur, terhitung sejak 2012 lalu. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, namun ini merupakan tanggung jawab kita semua," papar Sunandar.

Lebih lanjut, Sunandar mengajak peran serta pemerintah, masyarakat, dan organisasi massa termasuk pelaku bisnis harus aktif bahu-membahu melanjutkan kegiatan ini.

"Saya dan Anda juga bisa berperan. Anda bisa membantu melaporkan atau menghentikan upaya memburu, menangkap, membunuh, atau memelihara hewan yang dilindungi Undang-Undang seperti orang utan. Hewan-hewan ini berfungsi besar dalam ekosistem hutan. Mari lindungi hutan kita dan keanekaragaman hayati di dalamnya,” ajaknya.

Upaya kolaboratif dengan BKSDA Kalimantan Timur ini menjadi pelepasliaran yang kedelapan belas kali di Kalimantan Timur sejak kali pertama dilaksanakan tahun 2012.

CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite menegaskan komitmen untuk menjaga dan memperbesar populasi orang utan liar di Kalimantan Timur.

"Kami terus menjalankan proses rehabilitasi pada orang utan yang kami selamatkan dengan tujuan mengembalikan mereka ke hutan alami setelah mereka menyelesaikan proses rehabilitasi," katanya.

Pelepasliaran ini membuat populasi orang utan di konsesi Restorasi Ekosistem Hutan Kehje Sewen seluas 86.450 hektar yang terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur tersebut akan menjadi 101 individu. Dengan demikian, Hutan Kehje Sewen mendekati kapasitas maksimal yaitu 150 orang utan.

Yayasan BOS, menurut Jamartin, harus segera mendapatkan lokasi pelepasliaran orang utan alternatif yang memenuhi syarat untuk melepasliarkan orang utan di Kalimantan Timur, mengingat saat ini jumlah orang utan yang masih direhabilitasi di Samboja Lestari berjumlah sekitar 140 individu, dan banyak dari mereka yang memenuhi syarat untuk dilepasliarkan.

"Kami sedang mengajukan permohonan untuk mendapatkan izin pengelolaan Konsesi Restorasi Ekosistem lainnya untuk memenuhi kebutuhan areal pelepasliaran kami di Kalimantan Timur. Kami berharap bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akan memberikan kami izin segera," tuturnya.

Tidak hanya langka dan dilindungi, orang utan berperan penting dalam ekosistem hutan. Orang utan membantu menjaga kualitas hutan yang pada gilirannya hutan memberikan kita air dan udara bersih, hasil hutan baik kayu maupun non-kayu, serta iklim yang teregulasi dengan baik. (Lin)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com