Senin , 16 September 2019

Alat Batu Berusia Lebih Dari Lebih Dari 2,5 Juta Tahun Ditemukan di Ethiopia

10 Juni 2019 03:05 WIB


Ilustrasi.

JAKARTA - Sebuah situs arkeologi yang ditemukan di Ethiopia menunjukkan bahwa alat batu sudah digunakan lebih dari 2,58 juta tahun lalu. Sebelumnya, bukti tertua penggunaan alat batu adalah 2,58 hingga 2,55 juta tahun yang lalu.

Analisis para peneliti, yang diterbitkan Prosiding National Academy of Sciences, menunjukkan bahwa alat batu itu kemungkinan telah dipergunakan lebih lama dari yang selama ini diyakini.



Laman Phys, Senin (3/6/2019) menyebutkan, situs penggalian yang dikenal sebagai Bokol Dora 1 atau BD 1, diduga sezaman dengan penemuan fosil tertua pada 2013 di Ledi-Geraru, wilayah Afar di timur laut Ethiopia. Fosil tulang rahang itu berasal dari sekitar 2,78 juta tahun lalu, atau lebih 200 ribu tahun dari alat-alat batu yang diupam.

Tim Ledi-Geraru telah bekerja selama lima tahun terakhir untuk mencari tahu apakah ada hubungan antara asal-usul genus manusia dan  pembuatan alat batu yang sudah digosok tersebut. Langkah penting ke depan dalam pencarian ini terungkap ketika ahli geologi Arizona State University, Christopher Campisano melihat alat-alat batu tajam di sedimen di lereng curam.

"Awalnya kami menemukan beberapa artefak tergeletak di permukaan, tapi kami tidak tahu dari mana endapan itu berasal," kata Campisano. "Tapi ketika mengintip dari tepi tebing kecil, saya melihat batu-batu mencuat dari permukaan lumpur."

Butuh beberapa tahun untuk menggali sedimen sebelum ditemukan lapisan arkeologis berisi tulang hewan dan ratusan keping batu kecil yang mewakili bukti paling awal dari nenek moyang menggunakan pisau batu. Situs ini mencatat banyak informasi tentang bagaimana dan kapan manusia mulai menggunakan alat-alat batu.

"Melihat sedimen di bawah mikroskop, kita dapat melihat bahwa situs itu hanya terpapar untuk waktu yang sangat singkat. Alat-alat ini dijatuhkan oleh manusia purba di tepi sumber air dan kemudian dengan cepat terkubur. Situs kemudian tetap seperti itu jutaan tahun," kata ahli geoarkeologi Vera Aldeias dari Universitas Algarve, Portugal.

Kaye Reed, yang mempelajari ekologi situs tersebut, adalah direktur Proyek Penelitian Ledi-Geraru dan peneliti di Institute of Human Origins di Arizona State University. 

"Manusia purba yang membuat alat-alat batu ini hidup di habitat yang sama sekali berbeda dari Lucy," kata Reed.

Lucy adalah nama panggilan untuk spesies hominin yang lebih tua yang dikenal sebagai Australopithecus afarensis, yang ditemukan di situs Hadar, Ethiopia, sekitar 45 kilometer barat daya dari situs BD 1 yang baru.

"Habitat berubah dari semak belukar dengan pohon-pohon dan hutan-hutan menjadi padang rumput terbuka dengan sedikit pohon," tutur Reed.

Selain meneliti usia abu vulkanik beberapa meter di bawah situs, ahli geologi menganalisis sedimen situs. #teras.id

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com