Senin , 25 Maret 2019

Sertu Pardal, Dari Operasi Militer Hingga Menjadi Pelatih Tim Rifle Negara Tetangga

21 November 2017 14:41 WIB


Sertu Pardal.

SOLO, solotrust.com - Tantara Nasional Indonesia (TNI) senantiasa menjadi buah bibir di mata internasional karena prestasinya. Terlebih pasukan khususnya, seperti halnya Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Pasukan elit TNI AD ini telah beberapa kali menorehkan prestasi dalam hal tugas operasi maupun kejuaraan menembak tingkat internasional.

Kemampuan di atas rata-rata para prajuritnya membuat Kopassus cukup disegani, maka tidak heran bila beberapa negara meminta secara khusus, agar pasukan yang dulu bernama RPKAD tersebut melatih tentara mereka.     



Salah satunya adalah Sertu Pardal yang saat ini bertugas di Penerangan Kodim 0735 Surakarta. Sebelumnya pria kelahiran Sukoharjo, 20 Januari 1978 ini pernah bertugas di Grup 2 Kopassus, dengan spesifikasi prajurit petembak. Semasa bertugas di Grup 2 Kopassus, berbagai tugas operasi pernah ia rasakan, seperti operasi militer di Ambon, Aceh dan pam perbatasan Republik Indonesia – Papua Nugini.  

“Saat di Kopassus pernah bertugas di operasi militer Ambon sebanyak dua kali, saat itu operasi gabungan. Jadi ada Kopassus, Marinir dan Paskhas tahun 2000 hingga 2001 dan 2002 hingga 2003. Lalu di Aceh tahun 2003-2004 dan 2005-2006 itu saat Tsunami Aceh.” Tutur Sertu Pardal sembari mengingat penugasan kembali tersebut.

Menurut Pardal penugasan saat di Aceh merupakan yang paling berkesan baginya. Saat itu ia bersama rekan-rekannya dari baret merah melakukan penyergapan ke markas Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang posisinya berada di tengah hutan.

“Paling berkesan saat saya melaksanakan operasi tempur di Aceh, dimana saat itu berhadapan langsung dengan panglima Gerakan Aceh Merdeka namanya Inspektur Ali. Itu kita melaksanakan penyergapan, jalan dari habis Magrib malam sampe pagi hari. Dari jarak 100 meter kita merayap mendekati sasaran.” Ungkap Pardal.

Saat penyergapan itulah Pardal berhasil melumpuhkan salah satu pimpinan GAM bernama inspektur Ali, yang saat penyergapan ia sedang bersama-sama anak buahnya.

“Dari mulai mendekati sasaran itu kita se-rahasia mungkin. Sampe sasaran jam “J” atau waktu penyergapan, kita serang. lalu orang tersebut saya yang nembak. Kebetulan saya punya kemampuan nembak tersendiri. Padahal sasaran tersebut tidak diam, dia manuver.” Jelas suami dari Eri wijayanti kepada solotrust.com, Selasa (21/11/2017).

Selain penugasan operasi militer di dalam negeri, ternyata ayah dari Anastasya Caba Erfariyanti  ini juga pernah mengenyam penugasan di luar negeri. Tahun 2013 Pardal menerima tugas untuk melatih Tim Rifle Brunei Darussalam.

“Waktu itu ada 5 orang pelatih, kalau dari Kopassus saya sendiri, dari satuan lain ada, dari Kostrad ada dan satu lagi dari psikologi dari Bandung.” Terangnya

Pardal yang di Kopassus mempunyai kualifikasi utama dalam menembak bersama tim pelatih harus menggembleng tim yang akan diterjunkan dalam ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) tersebut.

“Saya masuk kualifikasi utama, yang pertama yaitu utama, madya dan pratama, itu klasifikasi keterampilan menembak di Kopassus, dan saya masuk tingkat utama.” Jelasnya.

Ternyata bukan hal mudah untuk melatih anggota militer yang memiliki karakter dan metode pelatihan yang berbeda. Pada awal pertemuan, Pardal melihat posisi menembak sejumlah anggota Tim Rifle tidak kokoh dan juga motivasi yang kurang. Karena itu, tembakan mereka tidak tepat pada target.

“Bagi mereka menembak hanya sebuah perintah dari satuan atas. Mungkin mereka yang penting datang ke lapangan, ambil senjata lalu nembak, tanpa adanya jadwal atau pembenahan yang jelas.” Ungkapnya.


Tim pelatih dari Indonesia pun segera mengambil tindakan dengan menanamkan pemahaman baru dan metode latihan yang baru. Karena metode latihan yang dilakukan sebelumnya tidak menghasilkan kualitas hasil yang baik.  

“Jadi kita atur jadwal mulai dari bangun pagi, kegiatan latihan, sampai sore hari, pulang. Pagi kita pembinaan fisik, siang materi menembak. Kita tanamkan program yang belum pernah mereka lakukan. Terangnya.

Upaya-upaya pelatihan yang dilakukan oleh tim pelatih dari TNI ini ternyata membuahkan hasil. ASEAN Armies Rifle Meet (AARM) pada 2013 tersebut membawa tim Brunei Darussalam menduduki peringkat ke- empat di bawah Indonesia, Thailand dan Filipina. Ini sungguh prestasi yang cemerlang dimana para pelatih dari TNI berhasil membawa Brunei melampoi target yang ditetapkan.

“Target dari Brunei sendiri pada saat AARM ke- 23 di Myanmar masuk 5 besar dari 10 negara peserta. Sebelumnya selalu mendapat nomor 7, 8 atau akhir-akhir. Dan pada saat pertandingan di Myanmar kontigen Brunei berhasil meraih 4 besar, di bawahnya Indonesia, Thailand dan pilipina. Jadi berhasil mengalahkan Malaysia dan Singapura, yang sebelum-sebelumya selalu di atas Brunei.” Ucap Pardal sembari melempar senyum kebanggaan.

 

(wid)

(Redaksi Solotrust)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com