Minggu , 20 Januari 2019

Ratusan Orang Tolak Agama Jadi Kendaraan Politik Praktis Geruduk Kantor Bawaslu Surakarta

12 Januari 2019 14:10 WIB


Aksi aliansi masyarakat damai Solo Raya.

SOLO, solotrust.com - Sekumpulan massa berjumlah lebih dari 300 orang menyerukan ajakan penolakan terhadap agama yang dijadikan alat politik dalam sebuah aksi orasi di Kantor Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Surakarta, Penumping, Laweyan, Solo, Jumat (11/1/2019).

Para peserta aksi membentangkan poster dan spanduk bertuliskan "Masyarakat Damai Solo Raya, Menolak Agama Dijadikan Kendaraan Politik Praktis". Mereka melakukan Long March dari lapangan Kota barat menuju Kantor Bawaslu.



Dalam orasi yang didengungkan, mereka minta ketegasan Bawaslu terhadap oknum yang menyebarkan berita bohong dan fitnah dalam konsestasi Pemilu ini. Mereka mengharapkan Pemilu yang aman dan kondusif. Sehingga tak ada yang mendiskreditkan kubu manapun.

Ahmad Farid Umar Assegaf selaku orator aksi, menyampaikan, marak berita bohong beredar melalui media sosial dinilai begitu meresahkan masyarakat. Masyarakat disuguhkan tontonan ajang politik dengan konsumsi yang tak mengedukasi.

Mereka merasa gerah dengan kelakuan peserta Pemilu yang melakukan pesta demokrasi tidak dengan cara yang santun.

"Di media sosial manapun, Instagram, Twitter, Facebook utamanya begitu ramai berita bohong dengan menjelek-jelekkan melalui fitnah. Kami ingin Pemilu damai, Pemilu yang bersih, anti hoaks, SARA, dan yang jelas kami tidak memihak Paslon manapun," ungkap dia.

Sementara itu, Ketua Bawaslu Kota Surakarta Budi Wahyono yang hadir menerima kedatangan peserta aksi menyampaikan bila Bawaslu tak akan lengah, upaya pencegahan akan terus dilakukan terhadap isu agama yang dibawa ke ranah politik.

"Satu nafas satu komitmen dengan apa yang diperjuangkan Bawaslu, jadi Bawaslu senantiasa melakukan upaya pencegahan pelanggaran baik pada parpol, caleg, paslon terkait dengan giat kampanye yang menggunakan isu SARA," katanya.

Ia turut meminta peran serta aktif masyarakat untuk mengawal pesta demokrasi. Dan tak segan untuk melapor kepada pihak berwenang jika dirasa ada indikasi pelanggaran Pemilu. Sehingga ajang lima tahunan itu dapat berlangsung dengan Jujur, Adil, Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia.

"Kami menginginkan perjuangan mereka tidak hanya sampai di sini tapi kawal terus, menebarkan kebajikan politik yang santun," jelas dia.

“Untuk Kota Surakarta maupun Jawa Tengah secara keseluruhan indeks kerawanannya dalam kategori sedang, upaya kita selalu melakukan pencegahan,” imbuh Budi. (adr)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com
BERITA LAINYA     »