Sabtu , 7 Desember 2019

UNS Tambah Guru Besar dari Fakultas Pertanian dan FMIPA

10 Januari 2019 06:05 WIB


Venty Suryanti (kiri) dan Sri Hartati (tengah). (solotrust-adr)

SOLO, solotrust.com - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menambah dua guru besar baru di bidang Ilmu Pemuliaan Tanaman dan Ilmu Kimia Organik Sintesis dan Bioorganik.

Dua guru besar tersebut yaitu Prof Dr Ir Sri Hartati MP dari Fakultas Pertanian (FP) dan Prof Venty Suryanti SSi MPhil PhD dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Pengukuhan dilaksanakan hari ini (10/1/2019) di Auditorium UNS.



Sri Hartati merupakan guru besar ke-198 di UNS dan ke-28 di FP. Sedangkan Venty Suryanti merupakan guru besar ke-197 UNS dan ke-14 di FMIPA.

Sri Hartati akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Peran Ilmu Pemuliaan Tanaman Bagi Pengembangan Anggrek di Indonesia”. Ilmu Pemuliaan Tanaman adalah ilmu yang mempelajari bagaimana cara mengubah genotip atau susunan genetik suatu tanaman hingga menjadi lebih berharga atau bermanfaat.

“Dengan Pemuliaan Tanaman inilah tercipta varietas-varietas tanaman yang lebih berharga dan bermanfaat yang mempunyai keunggulan sifat-sifat sesuai yang diinginkan manusia,” ungkap Hartati kepada wartawan dalam sesi jumpa pers di Solo Bistro, Rabu (8/1/2019).

Alasan Hartati memilih tanaman anggrek karena merupakan salah satu tanaman hias asal Indonesia yang banyak disukai oleh masyarakat karena keindahan bunganya. Tanaman tersebut di samping memiliki daya pesona juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai penghasil devisa negara, sehingga sangat prospektif untuk dibudidayakan sebagai bahan ramuan obat tradisional, sumber bahan makanan, hingga bahan parfum.

“Hasil penelitian disimpulkan bahwa di Indonesia merupakan negara paling kaya di dunia akan spesies anggrek, yakni mencapai 5.000 – 6.000 spesies dari 25.000 – 30.000 spesies anggrek dunia ada di Indonesia. Anggrek di Indonesia memiliki potensi manfaat yang besar yakni potensi keindahan, potensi sebagai ramuan obat, potensi sebagai bahan makanan, potensi sebagai parfum. Oleh karena itu, anggrek merupakan komoditas ekspor penghasil devisa Negara,” papar dia.

Sedangkan Venty Suryanti akan menyampaikan pidato pengukuhan dengan judul “Sintesis Biosurfaktan Menggunakan Substrat dari Bahan yang Dapat Diperbarui (Renewable) dan Aplikasinya”.

Venty mengatakan bahwa surfaktan telah banyak digunakan dalam berbagai industri, seperti makanan, biomedis, dan farmasi sebagai bahan pelumas, pembuat emulsi (emulsifier), pembasah (wetting), melembutkan (softening), hingga memperbaiki pewarnaan (fixing dyes).

Surfaktan pada umumnya merupakan produk turunan minyak bumi yang disintesis secara kimia yang dapat mencemari lingkungan karena bersifat tidak dapat terdegradasi secara alami (non-biodegradable). Selain itu, minyak bumi merupakan sumber bahan baku yang tidak dapat diperbarui. Oleh sebab itu, penggunaan surfaktan yang ramah lingkungan sangat diperlukan melalui Biosurfaktan,” kata dia.

Surfaktan yang dihasilkan oleh mikroorganisme tertentu ketika ditumbuhkan dalam media dan kondisi tertentu atau yang disebut Biosurfaktan menjadi pilihan untuk kebutuhan ini. Biosurfaktan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan surfaktan sintetis, yaitu dapat terdegradasi secara alami (biodegradable), memiliki toksisitas yang lebih rendah, dan efektif pada berbagai nilai pH dan suhu serta mempunyai spesifisitas yang tinggi karena merupakan molekul organik dengan gugus fungsi yang spesifik yang memungkinkan aplikasi lebih luas.

Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa surfaktan merupakan senyawa yang sangat penting yang telah digunakan untuk berbagai aplikasi. Biosurfaktan yang bersifat biodegradable dan mempunyai toksisitas yang rendah mempunyai potensi untuk menggantikan penggunaan surfaktan sintetis.

“Faktor utama yang menjadi penghalang komersialisasi biosurfaktan terkait dengan biaya produksi skala besar yang tidak ekonomis. Substrat yang murah, mikroorganisme yang efektif dan metode purifikasi harus dikembangkan secara intensif untuk mengurangi biaya produksi biosurfaktan,” ujar Venty.

Menurutnya, penelitian untuk memperoleh produk biosurfaktan dengan jenis dan atau sifat-sifat baru perlu terus dilakukan untuk keperluan aplikasi yang lebih luas. Indonesia mempunyai beraneka ragam kekayaan hayati yang sangat potensial digunakan sebagai substrat dalam sintesis biosurfaktan.

“Biosurfaktan dapat diaplikasikan untuk meminimalisasi pencemaran lingkungan oleh logam berat dan senyawa-senyawa Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) yang toksik, di mana dalam era industrialisasi pencemaran lingkungan menjadi masalah utama di Indonesia,” jelas dia. (adr)

(way)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com
BERITA LAINYA     »

07 Desember 2018 20:12 WIB

UNS Tambah 2 Guru Besar Kedokteran