Selasa , 26 Maret 2019

Sumsum Tutup Tahun 2018 Warga Krebet

31 Desember 2018 10:26 WIB


Sumsuman Tutup Tahun Bumi Maskarebet 2018.

SRAGEN, solotrust.com- Kegiatan yang diberi title Sumsuman Tutup Tahun Bumi Maskarebet 2018 ini digelar pada Minggu (30/12/2018). Ratusan warga di Desa Krebet kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen terlihat berpesta menikmati jenang sumsum di Lapangan Desa, untuk menandai momentum tutup tahun 2018 dengan menggelar tradisi  cinthuk sumsuman. Kegiatan ini sekaligus merawat tradisi pasaran Ngatwage, yaitu menggelar pasar di desa pada selapan sekali atau setiap Minggu wage.

Ratusan warga yang didominasi ibu-ibu mendatangi lapangan desa dengan berdandan layaknya menghadiri kondangan. Hal itu karena panitia juga mengkaitkan acara itu dengan peringatan hari ibu yang jatuh pada 22 Desember.



Mereka datang berombongan dari berbagai dukuh di desa Krebet. Mereka datang membawa 50 chintuk jenang sumsum dari setiap Rt nya. Sehingga total chintuk sumsum yang dibagikan sekitar 200 chintuk.

Kepala Desa Krebet Masaran Sragen Anggun Mahardika menjelaskan, acara tutup tahun ini sudah kali kali digelar oleh warga, untuk terus menumbuhkembangkan semangat warga dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

"Kita berharap dengan tahun baru, optimisme warga terus meningkat, kekompakan antar warga semakin bertambah, dan tentu kesejahteraan warga lebih baik lagi,' tutur Anggun Mahardika , kepada solotrust.com di sela sela acara.

Selain chintuk sumsuman, kemeriahan Lapangan Desa krebet juga diwarnai dengan Fashionshow ibu-ibu desa, pertunjukan seni, pasar Ngatwage serta senam bersama untuk mengawali acara pada sekitar pukul 6 pagi.

Dalam tradisi Jawa, sumsuman merupakan salah satu adat Jawa yang biasa dilakukan setelah berakhirnya hajatan. Adat ini ditandai dengan memakan jenang sumsum. Jenang sumsum yakni bubur yang dibuat dari tepung beras. Kemudian jenang disiram kuah santan dan gula merah. Jenang sumsum bercita rasa manis dan gurih.

Memakan jenang sumsum setelah selesainya hajatan dipercaya dapat menghilangkan lelah. Rasa manisnya juga memuat filosofi bekerja keras dahulu, menuai manis kemudian. Filosofi itulah yang dipakai oleh warga Krebet, untuk memasuki tahun baru dengan semangat baru.

Tradisi pasar Ngatwage, menurut Anggun Mahardika , dilestarikan warga karena secara turun temurun pasaran di desa Krebet berlangsung saat hari Minggu pada pasaran wage. Kedepannya , Pasar Ngatwage akan dikembangkan untuk menjadi arena bagi warga memasarkan produk yang dimilikinya seperti kuliner dan home industry.

Anggun Mahardika berharap , kegiatan tutup tahun ini membuat warganya bisa lebih kompak serta meningkat kesejahteraannya pada tahun tahun yang akan datang. (saf)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com
BERITA LAINYA     »